Jurnal Pelopor – Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, secara mengejutkan menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat terkait masa depan negaranya. Pernyataan ini menandai perubahan sikap signifikan, hanya beberapa hari setelah ia mengecam keras operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui kanal Telegram pada Senin (5/1/2026), Rodriguez menyebut pemerintahannya memprioritaskan upaya membangun hubungan yang seimbang dan saling menghormati dengan Washington. Ia bahkan secara terbuka mengundang pemerintah AS untuk bekerja sama dalam agenda pembangunan bersama.
Langkah ini segera menarik perhatian internasional, mengingat Venezuela dan Amerika Serikat telah lama terlibat ketegangan politik, ekonomi, dan diplomatik selama lebih dari satu dekade.
Dari Kecaman ke Ajakan Kerja Sama
Sikap Rodriguez ini bertolak belakang dengan pidatonya beberapa hari sebelumnya. Setelah diangkat sebagai presiden sementara oleh Mahkamah Agung Venezuela pada Sabtu (3/1/2026), Rodriguez mengecam keras penangkapan Maduro sebagai tindakan ilegal dan pelanggaran hukum internasional.
Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, ia bahkan menegaskan kesetiaan penuh kepada Maduro dan menyebut bahwa hanya Maduro yang sah sebagai presiden Venezuela. Retorika keras tersebut mempertegas sikap konfrontatif Caracas terhadap Washington.
Namun, hanya dalam hitungan hari, nada tersebut berubah drastis. Rodriguez kini membuka ruang dialog dan menyampaikan kesiapan untuk bekerja sama dengan AS, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya meredam eskalasi konflik dan menjaga stabilitas politik serta ekonomi Venezuela.
Reaksi Keras Donald Trump
Perubahan sikap Rodriguez tidak serta-merta meredakan ketegangan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru merespons dengan pernyataan bernada ancaman. Dalam wawancara dengan media AS, Trump menegaskan bahwa Rodriguez harus “melakukan hal yang benar” jika tidak ingin menghadapi konsekuensi berat.
Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Venezuela dan tidak menutup opsi pengerahan pasukan darat. Ia juga kembali menegaskan dominasi AS di kawasan tersebut, pernyataan yang memicu kekhawatiran komunitas internasional.
Pernyataan Trump memperlihatkan bahwa meski ada sinyal kerja sama dari Caracas, jalur diplomasi masih dibayangi tekanan militer dan politik.
Bayang-Bayang Kasus Nicolas Maduro
Di sisi lain, perhatian dunia masih tertuju pada proses hukum yang dihadapi Nicolas Maduro di Amerika Serikat. Mantan presiden Venezuela itu dijadwalkan hadir di pengadilan federal New York untuk menghadapi sejumlah dakwaan berat, termasuk perdagangan narkoba dan pencucian uang.
Sejumlah analis membandingkan kasus Maduro dengan nasib mantan Presiden Panama, Manuel Noriega, yang ditangkap pasukan AS pada 1990. Noriega akhirnya menghabiskan sisa hidupnya berpindah dari satu penjara ke penjara lain hingga meninggal pada 2017.
Perbandingan ini memperkuat kekhawatiran bahwa Maduro akan menghadapi perjalanan hukum panjang di luar negaranya.
Masa Depan Venezuela di Persimpangan
Pernyataan Delcy Rodriguez membuka babak baru dalam krisis Venezuela. Di satu sisi, kerja sama dengan AS berpotensi membuka kembali akses ekonomi, terutama sektor energi. Namun di sisi lain, tekanan politik dan militer dari Washington tetap menjadi ancaman nyata.
Dunia kini menanti, apakah perubahan sikap ini menjadi awal stabilisasi Venezuela atau justru memperdalam ketidakpastian politik di kawasan Amerika Latin. Menurut Anda, apakah langkah Rodriguez akan membawa Venezuela keluar dari krisis berkepanjangan?
Sumber: Kompas.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







