Jurnal Pelopor — Tekanan di Real Madrid mencapai titik yang jarang terlihat. Bukan hanya pemain dan pelatih yang berada di bawah sorotan, tetapi juga sosok paling berkuasa di balik layar: Florentino Perez. Presiden klub berjuluk Los Blancos itu tampak berwajah kecut ketika Santiago Bernabeu, stadion yang selama ini menjadi simbol kejayaan Madrid, justru menggema dengan teriakan tuntutan agar dirinya mundur.
Rentetan Kegagalan Memantik Amarah Publik
Musim 2025/2026 berubah menjadi mimpi buruk bagi Real Madrid. Kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi pukulan telak. Luka itu semakin dalam ketika Madrid tersingkir di Copa del Rey oleh Albacete, tim divisi dua, pada babak 32 besar. Hasil tersebut dianggap mencederai harga diri klub sebesar Real Madrid.
Situasi makin rumit dengan pemecatan Xabi Alonso sebagai pelatih kepala. Padahal, Alonso belum lama menukangi tim sebelum akhirnya digantikan Alvaro Arbeloa. Di balik layar, isu keretakan ruang ganti dan ego besar sejumlah pemain bintang menjadi konsumsi media dan bahan perbincangan suporter.
Bernabeu yang Biasanya Ramah, Kini Menggugat
Di laga La Liga melawan Levante, Florentino Perez hadir langsung di tribun Santiago Bernabeu, seperti kebiasaannya. Namun suasana kali ini jauh dari ramah. Sejumlah suporter secara terbuka melontarkan teriakan, “¡Dimite, Perez!” atau “Mundur kamu, Perez!”
Bagi seorang presiden klub yang terbiasa dielu-elukan, momen ini menjadi pemandangan langka. Kamera menangkap ekspresi Perez yang tak bisa menyembunyikan kekesalan. Ia tetap duduk di kursinya, namun wajah kecut menjadi simbol betapa berat tekanan yang kini ia hadapi.
Banner Protes dan Simbol Kekecewaan
Tak hanya di stadion, gelombang protes juga merambah jalanan kota Madrid. Beberapa banner bernada keras terpampang di sudut-sudut kota. Tulisan seperti “Florentino: Game Over”, “Kegagalan demi kegagalan”, hingga kritik tajam terhadap proyek ambisius seperti European Super League dan renovasi stadion menjadi bukti kemarahan fans yang menumpuk.
Bagi sebagian pendukung, Perez dianggap terlalu terobsesi dengan proyek besar dan citra global, namun melupakan keseimbangan tim di lapangan. Mereka menilai kejayaan masa lalu tak bisa terus dijadikan tameng atas kegagalan saat ini.
Warisan Besar yang Kini Dipertanyakan
Tak bisa dipungkiri, Florentino Perez adalah arsitek era Galacticos dan presiden yang membawa banyak trofi bergengsi ke lemari Real Madrid. Sejak kembali menjabat pada 2009, ia membangun klub menjadi kekuatan finansial dan komersial terbesar di dunia sepak bola.
Namun, kontrak kepemimpinannya masih berlaku hingga 2029. Artinya, secara struktural, Perez belum berada di ujung masa jabatan. Meski demikian, sepak bola modern menunjukkan satu hal: legitimasi presiden tidak hanya datang dari surat resmi, tetapi juga dari kepercayaan publik.
Antara Kesetiaan dan Tuntutan Perubahan
Kini Florentino Perez berada di persimpangan. Di satu sisi, ia memiliki sejarah, kekuasaan, dan visi jangka panjang. Di sisi lain, suara Bernabeu adalah alarm yang tak bisa diabaikan. Bagi Real Madrid, stadion selalu menjadi cermin kejujuran.
Wajah kecut Perez bukan sekadar ekspresi sesaat. Ia mencerminkan situasi klub yang sedang mencari arah. Pertanyaannya, apakah Perez akan mampu membalikkan keadaan sekali lagi, atau justru era panjangnya di Real Madrid mulai memasuki fase senja? Bernabeu tampaknya menunggu jawabannya.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







