Jurnal Pelopor – Indonesia hingga kini menyandang status sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia. Komoditas ini tak hanya menopang pendapatan negara, tapi juga menjadi tulang punggung ekspor dan penyedia lapangan kerja bagi jutaan rakyat. Dalam laporan Energy Shift Institute (ESI) bertajuk “Coal in Indonesia: Paradox of Strength and Uncertainty”, batu bara disebut masih menyumbang sekitar 3,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Menurut Hazel Ilango, Principal dan Pemimpin Kajian Transisi Batu Bara di ESI,
“Tidak mengherankan jika batu bara menjadi mesin utama ekonomi Indonesia. Ia menyumbang besar terhadap pendapatan nasional, khususnya di daerah penghasil.”
Kontribusi Raksasa di Daerah Tambang
Laporan tersebut mengungkap bahwa kontribusi batu bara bahkan lebih mencolok di daerah. Di Kalimantan Timur, sektor ini menyumbang hingga 40% dari PDRB daerah. Di Sumatra Selatan kontribusinya 25%, dan di Kalimantan Selatan mencapai 15%. Artinya, ekonomi daerah-daerah ini sangat rentan bila harga atau permintaan batu bara anjlok.
Tak hanya itu, sektor pertambangan dan jasa batu bara juga tercatat menghasilkan laba bersih sebesar US$ 31,4 miliar dalam kurun waktu 2019–2023, menjadikannya industri paling menguntungkan setelah perbankan.
Produksi Meroket, Tembus Rekor Baru
Terlepas dari tren global yang mengarah pada penurunan konsumsi energi fosil, produksi batu bara Indonesia justru terus meningkat. Tahun 2024 menjadi tonggak penting, dengan produksi nasional mencapai 836 juta ton, naik 7,9% dari 2023.
Namun, Hazel mengingatkan bahwa tingginya laba dan produksi saat ini bisa jadi bersifat sementara.
“Lonjakan keuntungan dalam beberapa tahun terakhir adalah dampak dari harga pasar yang sempat tinggi akibat krisis energi global. Tapi tren itu tidak akan abadi,” ujarnya.
Harga Mulai Turun, Risiko Menghantui
Sejak 2022, harga batu bara telah turun lebih dari setengahnya, meskipun masih berada di atas level sebelum pandemi. Fenomena ini menjadi peringatan bahwa periode emas bisa segera berakhir. Bila negara terlalu bergantung pada komoditas ini, maka risiko fiskal dan ekonomi bisa meningkat dalam jangka panjang.
“Perlu ada transisi energi yang lebih jelas dan terarah agar ekonomi Indonesia tidak terjebak dalam ketergantungan terhadap komoditas yang tidak berkelanjutan,” tambah Hazel.
Paradoxs: Kekuatan Ekonomi yang Rentan
Judul laporan ESI yang menyebut coal sebagai “paradoks kekuatan dan ketidakpastian” mencerminkan dilema besar yang dihadapi Indonesia. Di satu sisi, sektor ini masih sangat kuat dan dominan. Namun di sisi lain, ketidakpastian masa depan energi fosil, perubahan iklim, serta dorongan global menuju energi hijau bisa melemahkan ketahanan ekonomi Indonesia jika tak disiapkan sejak dini.
Penutup: Waktunya Menyusun Ulang Strategi
Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Di tengah tekanan transisi energi global, pemerintah perlu memikirkan langkah jangka panjang. Diversifikasi ekonomi, pengembangan energi baru dan terbarukan, serta investasi di sektor berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







