Jurnal Pelopor — Pemerintah Thailand mengonfirmasi pembangunan sebuah patung Buddha di wilayah perbatasan yang masih disengketakan dengan Kamboja. Langkah ini langsung memantik sorotan regional karena dilakukan di lokasi yang sama tempat militer Thailand sebelumnya merobohkan dan memindahkan patung dewa Hindu Wisnu pada Desember lalu. Alih-alih meredakan ketegangan pascagencatan senjata, pembangunan simbol keagamaan ini justru membuka babak baru polemik antara dua negara bertetangga di Asia Tenggara.
Pembangunan patung Buddha tersebut terjadi di kawasan yang oleh Thailand disebut An Ma, sementara Kamboja mengenalnya sebagai An Ses. Wilayah ini telah lama menjadi titik sensitif dalam sengketa perbatasan yang berakar sejak penetapan garis batas era kolonial.
Simbol Agama di Tengah Sengketa Wilayah
Ketegangan terbaru tidak dapat dilepaskan dari peristiwa bulan lalu, ketika pasukan Thailand menghancurkan patung Wisnu di area yang sama. Bangkok kala itu menyatakan tindakan tersebut bertujuan menegaskan kendali wilayah, bukan sebagai bentuk penghinaan terhadap agama tertentu.
Namun, bagi Kamboja, pembangunan patung Buddha oleh militer Thailand dinilai sarat makna politik. Phnom Penh menilai pemasangan simbol keagamaan di wilayah sengketa berpotensi memperkuat klaim sepihak, sekaligus melanggar semangat deeskalasi yang disepakati dalam gencatan senjata.
Kementerian luar negeri Kamboja menyatakan bahwa langkah Thailand tersebut “tidak sejalan dengan upaya membangun kepercayaan” pascakonflik berdarah yang baru saja berakhir.
Respons Militer Thailand
Menanggapi kritik tersebut, Angkatan Darat Thailand membantah keras tudingan Phnom Penh. Dalam pernyataan resminya, militer Thailand menyebut Kamboja telah mendistorsi fakta di lapangan.
Menurut militer Thailand, pembangunan patung Buddha dilakukan dalam kerangka kebebasan beragama dan keyakinan. Mereka juga menyatakan bahwa tujuan utama pemasangan patung tersebut adalah untuk meningkatkan semangat warga Thailand yang tinggal di kawasan perbatasan, bukan untuk merongrong kepercayaan atau simbol agama pihak lain.
“Kami tidak bermaksud menghina agama mana pun. Ini adalah bentuk ekspresi keagamaan dan dukungan moral bagi masyarakat setempat,” demikian pernyataan militer Thailand.
Kesamaan Agama Tak Cukup Redam Konflik
Ironisnya, Thailand dan Kamboja sama-sama merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha. Namun kesamaan keyakinan itu tidak otomatis meredakan konflik panjang yang membelit kedua negara.
Sengketa perbatasan sepanjang sekitar 800 kilometer ini telah memicu berbagai bentrokan bersenjata selama bertahun-tahun. Episode terbaru, yang berlangsung selama tiga pekan sebelum gencatan senjata diberlakukan, dilaporkan menewaskan puluhan orang dari kedua pihak.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, Kamboja menuduh Thailand masih menguasai sejumlah area di provinsi perbatasan dan mendesak penarikan pasukan dari wilayah yang diklaim bersama.
Ujian Gencatan Senjata dan Stabilitas Regional
Pembangunan patung Buddha di wilayah sengketa menjadi ujian nyata bagi keberlanjutan gencatan senjata yang rapuh. Di satu sisi, Thailand menegaskan haknya atas wilayah tersebut. Di sisi lain, Kamboja memandang langkah itu sebagai provokasi simbolik yang berpotensi memicu eskalasi baru.
Bagi kawasan Asia Tenggara, ketegangan ini menjadi pengingat bahwa konflik perbatasan tidak hanya soal garis wilayah, tetapi juga menyentuh identitas, simbol, dan emosi kolektif. Di tengah upaya menjaga stabilitas regional, langkah kecil di wilayah sengketa bisa berdampak besar pada hubungan antarnegara.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







