• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home Sejarah

Asal-usul Nama Malioboro, Benarkah dari Jenderal Inggris?

Kawasan Malioboro diprediksi dibanjiri wisatawan saat libur Nataru, kunjungan tembus hingga 1,5 juta orang.

musa by musa
27/12/2025
in Sejarah
0
malioboro
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor  –  Baru (Nataru) 2025. Sebagai jantung wisata Kota Yogyakarta, kawasan ini diprediksi akan mengalami lonjakan kunjungan wisatawan secara signifikan mulai Jumat (26/12/2025) hingga dua pekan ke depan. Arus pelancong diperkirakan terus memadati sumbu filosofis Yogyakarta, terutama di area Jalan Malioboro dan Kilometer Nol.

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta memproyeksikan total kunjungan wisatawan selama libur Nataru dapat mencapai 1,4 hingga 1,5 juta orang. Angka ini melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat sekitar 500.000 pengunjung.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraeni, menjelaskan bahwa estimasi tersebut dihitung dari rata-rata kunjungan harian sebanyak 60.000 hingga 100.000 orang selama 14 hari libur. Mayoritas wisatawan berasal dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah lain di Pulau Jawa.

Malioboro dalam Sejarah Yogyakarta

Di balik kepadatannya sebagai destinasi wisata, Malioboro menyimpan sejarah panjang yang tak terpisahkan dari berdirinya Keraton Yogyakarta. Berdasarkan buku Malioboro Dulu dan Kini terbitan Pusat Data dan Analisa Tempo, jalan ini dibangun pada tahun 1756, tidak lama setelah Keraton Yogyakarta berdiri.

Malioboro dirancang sebagai jalan lurus yang membentang ke arah utara dari Keraton. Secara filosofis, desain tersebut memungkinkan Sultan yang berada di Siti Hinggil memandang Gunung Merapi sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Jalan ini juga menjadi bagian penting dari sumbu filosofis Yogyakarta yang menghubungkan Laut Selatan, Keraton, dan Gunung Merapi.

Pada masa lalu, Malioboro berfungsi sebagai jalur utama upacara kebesaran keraton. Kirab kereta kencana Kanjeng Kiai Garudayeksa, penobatan Sultan, hingga penyambutan tamu kehormatan dari Stasiun Tugu melewati kawasan ini.

Pembagian Ruas Jalan di Masa Kolonial

Pada era kolonial, kawasan Malioboro terbagi menjadi beberapa ruas dengan fungsi dan nama berbeda. Kadasterstraat membentang dari Alun-alun Utara hingga perempatan air mancur. Residentielaan berada di sekitar Gedung Agung, sementara kawasan Petjinan menjadi pusat permukiman dan perdagangan warga keturunan Tionghoa. Adapun nama Malioboro sendiri digunakan untuk ruas jalan yang mengarah langsung ke Stasiun Tugu.

Pembagian ini menunjukkan bahwa Malioboro sejak dulu merupakan pusat aktivitas ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan.

Asal-usul Nama Malioboro yang Sering Diperdebatkan

Asal-usul nama Malioboro kerap memunculkan perdebatan. Salah satu anggapan populer menyebutkan bahwa nama ini berasal dari gelar bangsawan Inggris, John Churchill, yang dikenal sebagai 1st Duke of Marlborough. Dugaan ini muncul karena pengaruh Inggris sempat masuk ke Jawa pada awal abad ke-19.

Namun, sejumlah sejarawan menilai teori tersebut kurang kuat. Sejarawan Inggris Peter Carey, dalam kajiannya mengenai asal-usul nama Yogyakarta dan Malioboro, merujuk pada pendapat Dr. O.W. Tichelaar yang menyebut bahwa Malioboro berasal dari bahasa Sanskerta.

Kata “malyabhara” berarti jalan yang dihiasi untaian bunga. Penamaan ini dinilai lebih selaras dengan tradisi keraton, di mana Malioboro sering dihias bunga saat berlangsung upacara adat dan perayaan kerajaan.

Dengan demikian, Malioboro bukan sekadar pusat wisata dan ekonomi, melainkan juga simbol sejarah, filosofi, dan identitas budaya Yogyakarta yang terus hidup hingga kini.

Sumber: Kompas.com

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #Malioboro #Yogyakarta #LiburNataru #WisataJogja #Pariwisata #LiburanAkhirTahun #Wisatawan #jurnalpelopor
Previous Post

Hanya 28 Hari, Agak Laen 2 Kalahkan Film Pertama

Next Post

Milan Kudeta Inter Usai Gilas Verona 3-0 di San Siro

musa

musa

Related Posts

waisak
Sejarah

Waisak dan Candi Borobudur: Ini Rahasianya!

12/05/2025
hari kartini
Sejarah

Hari Kartini: Dari Pingitan ke Pencerahan Perempuan Indonesia!

21/04/2025
Lorong Sejarah
Sejarah

Lorong Sejarah Kemenhan Dibuka Lagi, Bangkitkan Nasionalisme!

16/04/2025
Next Post
verona

Milan Kudeta Inter Usai Gilas Verona 3-0 di San Siro

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.