Jurnal Pelopor – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di titik kritis. Berdasarkan laporan terbaru pada Senin (16/2/2026), militer AS telah menyiagakan armada tempur di Perairan Arab, termasuk kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln, sebagai persiapan menghadapi kemungkinan operasi militer berkelanjutan terhadap Teheran.
Langkah ini diambil di tengah retorika keras Presiden Donald Trump yang secara terbuka mengemukakan kemungkinan adanya perubahan pemerintahan di Iran.
Pesan Visual Kekuatan Militer
Pihak Reuters merilis gambar koordinasi militer AS yang melibatkan:
-
USS Abraham Lincoln: Kapal induk utama sebagai basis serangan udara.
-
USS Frank E. Petersen Jr.: Kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke.
-
USNS Carl Brashear: Kapal kargo untuk dukungan logistik dan operasional.
Dua pejabat AS mengungkapkan secara anonim bahwa militer telah merancang perencanaan serius untuk operasi yang berpotensi berlangsung selama berminggu-minggu jika perintah serangan diturunkan. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa “Presiden Trump memiliki semua opsi yang tersedia terkait dengan Iran.”
Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Senjata
Meskipun kekuatan militer dikumpulkan, jalur diplomasi dilaporkan masih tetap terbuka, menciptakan situasi yang kontradiktif antara ancaman perang dan upaya perundingan:
-
Mediator Oman: Upaya dialog dijadwalkan berlangsung di Jenewa dengan Oman bertindak sebagai penengah.
-
Utusan Khusus: Sosok kunci seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner bersiap menemui perwakilan Iran.
-
Peringatan Marco Rubio: Menteri Luar Negeri AS mengingatkan bahwa meski Trump lebih menyukai kesepakatan damai, jalan menuju pemahaman bersama saat ini terasa sangat sulit dan penuh rintangan.
Implikasi Global
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global akan terganggunya jalur perdagangan energi di kawasan tersebut. Tekanan politik dari Washington yang dikombinasikan dengan pengerahan ribuan pasukan menunjukkan bahwa AS sedang melakukan strategi “tekanan maksimum” untuk memaksa Teheran kembali ke meja runding dengan syarat yang lebih ketat, atau menghadapi risiko konflik fisik secara langsung.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







