Jurnal Pelopor — Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menjadi perhatian serius di Jawa Timur pada awal 2026. Hingga akhir Januari, jumlah hewan ternak yang terkonfirmasi terjangkit PMK mencapai 839 ekor. Angka ini menunjukkan tren peningkatan signifikan, dengan penambahan kasus yang menembus lebih dari 30 ekor per hari.
Lonjakan Kasus dalam Waktu Singkat
Data terbaru menunjukkan bahwa dalam rentang satu hari saja, jumlah kasus melonjak dari 803 menjadi 839 ekor. Kondisi ini menandakan penyebaran virus PMK masih berlangsung aktif, meski berbagai langkah pengendalian telah dilakukan pemerintah daerah.
Dari total hewan ternak yang terpapar, 221 ekor sapi dinyatakan telah sembuh setelah menjalani perawatan. Namun, sebagian besar lainnya masih dalam kondisi sakit dan membutuhkan penanganan intensif. Selain itu, delapan ekor sapi dilaporkan mati akibat PMK, sementara lima ekor lainnya terpaksa dipotong paksa guna mencegah penyebaran virus yang lebih luas.
Sapi Pedaging Paling Rentan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa mayoritas kasus PMK pada Januari 2026 terjadi pada sapi pedaging. Jenis ternak ini dinilai lebih rentan karena tingkat pergerakan yang tinggi, terutama menjelang periode tertentu dalam kalender keagamaan.
Peningkatan mobilitas hewan ternak menjadi salah satu faktor utama yang memicu meluasnya penyebaran virus. Jelang Hari Raya Iduladha, lalu lintas sapi antarwilayah meningkat tajam, baik untuk kebutuhan peternak maupun pedagang. Kondisi ini memperbesar risiko penularan, terutama jika pengawasan kesehatan ternak tidak dilakukan secara ketat.
Faktor Musim Ikut Memperburuk Situasi
Selain pergerakan ternak, faktor cuaca juga disebut turut berperan. Musim dengan tingkat kelembapan tinggi dinilai menjadi kondisi yang rawan bagi penyebaran virus PMK. Lingkungan kandang yang lembap dan kurang sanitasi dapat mempercepat penularan antarhewan.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi peternak kecil, yang kerap memiliki keterbatasan sarana untuk menjaga kebersihan kandang dan menerapkan biosekuriti secara optimal.
Vaksinasi Jadi Andalan Pencegahan
Untuk menekan laju penyebaran PMK, pemerintah pusat telah mengalokasikan 1,51 juta dosis vaksin khusus untuk Jawa Timur. Dalam waktu dekat, ratusan ribu dosis vaksin dijadwalkan tiba dan langsung disalurkan ke daerah-daerah terdampak.
Vaksinasi diposisikan sebagai langkah pencegahan utama, terutama bagi hewan ternak yang masih sehat. Sementara itu, ternak yang sudah terpapar PMK langsung mendapatkan pengobatan. Pemerintah memastikan bahwa ketersediaan obat telah dipenuhi sejak akhir 2025, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Sebaran Kasus di 19 Daerah
Hingga saat ini, virus PMK telah terdeteksi di 19 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Kabupaten Pasuruan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai lebih dari 100 ekor sapi terpapar.
Kondisi ini menuntut koordinasi lintas daerah yang lebih ketat, terutama dalam pengawasan lalu lintas ternak dan penerapan protokol kesehatan hewan. Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan edukasi kepada peternak agar segera melaporkan gejala PMK dan tidak menyembunyikan kasus.
Menjaga Peternak dan Ketahanan Pangan
Di balik angka-angka tersebut, wabah PMK membawa dampak langsung pada kehidupan peternak. Banyak dari mereka menggantungkan penghasilan pada sapi pedaging, sehingga ancaman penyakit ini bukan hanya soal kesehatan hewan, tetapi juga soal ekonomi keluarga dan ketahanan pangan daerah.
Pengendalian PMK kini bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan upaya bersama antara negara, peternak, dan masyarakat. Dengan langkah yang konsisten dan disiplin, harapannya wabah ini bisa ditekan sebelum mencapai puncaknya. Namun, pertanyaannya kini, seberapa siap semua pihak menjaga disiplin itu di tengah meningkatnya kebutuhan ternak jelang hari besar keagamaan?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







