Jurnal Pelopor – Bintang muda Barcelona, Lamine Yamal, kini menghadapi ancaman serius berupa burnout akibat jadwal padat yang dijalaninya sejak usia belasan tahun. Pemain berusia 18 tahun itu baru saja mengalami cedera pangkal paha saat Barcelona kalah dari Paris Saint-Germain di Liga Champions, yang kini membuatnya harus beristirahat untuk waktu yang belum ditentukan.
Sejak debutnya melawan Real Betis pada April 2023, Yamal telah mencatat 130 pertandingan senior dengan total 8.158 menit bermain, angka luar biasa bagi pemain yang belum genap 18 tahun. Data tersebut menjadikannya salah satu pemain termuda di dunia dengan beban kompetitif tertinggi.
“Intensitas permainan modern sudah berat bagi pemain profesional dewasa, apalagi bagi mereka yang masih berkembang,” kata Dr. Darren Burgess, Ketua Jaringan Kinerja Tinggi FIFPRO.
“Jika dipaksakan, dampaknya bisa panjang bagi karier dan kesehatan mental mereka.”
Lebih Cepat dari Bellingham dan Lukaku
Yamal bahkan menorehkan rekor baru sebagai pemain termuda yang mencapai 100 penampilan senior di usia 17 tahun 7 bulan, melampaui Romelu Lukaku dan Jude Bellingham. Namun di balik catatan itu, risiko cedera terus menghantui.
Menurut data Transfermarkt, pemain kelahiran 2007 ini telah melewatkan 18 laga akibat cedera, dengan total absensi 133 hari. Jika cedera pangkal pahanya kali ini tergolong serius, ia bisa absen hingga sebulan termasuk di kualifikasi Piala Dunia 2026 bersama Spanyol dan laga El Clasico melawan Real Madrid pada 26 Oktober mendatang.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, mengakui kondisi Yamal tidak bisa ditangani secara gegabah.
“Kami harus hati-hati. Ini bukan cedera otot biasa, jadi kami akan mengatur menit bermainnya dengan lebih ketat,” ujarnya.
Ketegangan Barcelona dan Timnas Spanyol
Situasi Yamal kini menimbulkan gesekan antara Barcelona dan tim nasional Spanyol. Flick menuduh pelatih La Furia Roja, Luis de la Fuente, terlalu memaksakan sang pemain meski kondisinya belum fit.
“Dia sudah merasa nyeri, tapi masih diberi suntikan pereda sakit agar bisa main 70 menit. Itu bukan cara melindungi pemain muda,” ucap Flick dengan nada kecewa.
Luis de la Fuente pun membalas dengan pernyataan menohok.
“Saya terkejut mendengar komentar itu. Sebagai mantan pelatih tim nasional, seharusnya Flick lebih memahami tekanan dan tanggung jawab di level negara.”
Polemik serupa bukan hal baru di sepak bola modern. Wayne Rooney dan Michael Owen pernah mengalami nasib serupa di usia muda, dipaksa tampil terus-menerus hingga karier mereka meredup sebelum usia 30 tahun.
Peringatan Serius dari Pakar
FIFPRO, asosiasi pemain dunia, bahkan menjadikan kasus Yamal sebagai contoh dalam laporan bertajuk Overworked and Underprotected: Player Health and Performance Impact. Laporan itu menyoroti bahaya eksploitasi terhadap pemain muda yang terlalu cepat diperlakukan seperti bintang dewasa.
Menurut Dr. Burgess, risiko cedera berulang meningkat signifikan bila pemain remaja tidak diberi waktu pemulihan cukup.
“Tulang dan jaringan otot mereka belum sepenuhnya matang. Cedera kecil yang diabaikan bisa berubah jadi masalah kronis,” jelasnya.
Kini, banyak pihak mendesak Barcelona dan federasi Spanyol untuk meninjau ulang kebijakan rotasi dan pengelolaan pemain muda.
“Yamal bukan sekadar aset klub, tapi aset sepak bola Eropa. Kalau tidak dijaga, kita bisa kehilangan salah satu talenta terbesar dekade ini,” tambah Burgess.
Dengan bakat besar yang dimilikinya, Lamine Yamal digadang-gadang sebagai pewaris tahta Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Namun, apakah dunia sepak bola akan benar-benar belajar dari masa lalu dan memberi waktu bagi bintang muda ini untuk tumbuh tanpa tekanan berlebihan?
Sumber: Bola.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






