Jurnal Pelopor – Aksi spontan warga Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, pada Senin malam (26/5/2025) sekitar pukul 19.30 WIB, menyentil nurani publik dan jadi pengingat keras bagi para pemangku kebijakan. Sekelompok warga dengan peralatan seadanya turun langsung ke Jalan Raya Baureno–Babat untuk menambal lubang-lubang jalan yang selama ini meresahkan dan membahayakan pengendara.
Dengan hanya berbekal cangkul, ember, dan material sederhana seperti pedel (campuran batu dan tanah), mereka menutup lubang-lubang yang menganga di jalan utama penghubung antara Baureno dan Babat. Aksi ini bukan sekadar bentuk kepedulian, melainkan luapan keputusasaan terhadap lambannya respons pemerintah terhadap kerusakan infrastruktur yang sudah berlangsung lama.
Salah seorang warga, dalam nada getir dan lelah, menyampaikan, “Kekurangan dana, pedel pun jadi.” Ucapan itu tidak hanya menggambarkan semangat gotong royong, tetapi juga sindiran tajam terhadap pemerintah yang dinilai abai terhadap keselamatan rakyat.
Jalan Rusak, Pengendara Jadi Korban
Kerusakan parah di sepanjang ruas ini telah lama dikeluhkan. Banyak pengendara sepeda motor dan mobil yang terjatuh, terperosok, bahkan mengalami kecelakaan serius akibat lubang-lubang besar yang menganga di sejumlah titik jalan. Ironisnya, kondisi jalan ini justru berada di jalur vital yang dilintasi setiap hari oleh warga dari dua kabupaten, yaitu Bojonegoro dan Lamongan.
“Sudah lama rusak, laporan ke dinas ada, tapi hanya janji dan tinjauan tanpa tindak lanjut. Sementara tiap hari pengguna jalan terus jadi korban,” ujar warga lainnya yang ikut serta dalam aksi malam itu.
Janji Politik yang Hanya Jadi Retorika?
Aksi warga ini juga memunculkan kembali pernyataan kampanye Gubernur Jawa Timur yang pernah menyatakan bahwa perbaikan jalan provinsi akan dilakukan maksimal 24 jam sejak laporan diterima. Sayangnya, janji tersebut tampaknya hanya menjadi hiasan panggung politik. Faktanya, hingga bertahun-tahun berlalu, jalan di Baureno tak kunjung mendapat perhatian serius.
“Gubernur pernah bilang jalan rusak akan diperbaiki dalam 24 jam. Lah ini? Sudah 24 minggu, bahkan 24 bulan pun belum ada tanda-tanda,” kata seorang pemuda yang ikut menambal jalan.
Warga menyebut bahwa aksi tersebut bukan untuk mencari perhatian, tetapi murni demi keselamatan pengguna jalan dan sebagai bentuk keprihatinan terhadap janji-janji pemimpin yang tak kunjung ditepati. Mereka merasa tak punya pilihan lain selain bergerak sendiri.
Pemerintah Harus Malu
Aksi ini menjadi simbol perlawanan warga terhadap kelalaian pemerintah. Ketika negara gagal hadir di tengah persoalan publik, rakyat pun harus turun tangan meski dengan sumber daya terbatas. Ini bukan sekadar tambal jalan, tetapi juga tambal kepercayaan publik yang perlahan mulai pudar.
Sebagai penutup, salah seorang warga mengatakan,
“Kami tidak minta banyak, cuma keselamatan di jalan. Kalau jalan berlubang dibiarkan, nyawa bisa melayang. Jadi jangan salahkan kami kalau akhirnya harus turun tangan sendiri.”
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







