Jurnal Pelopor – Pasukan Israel kembali menggempur Jalur Gaza pada Sabtu (25/10), meski perjanjian gencatan senjata masih berlangsung. Serangan itu disebut menargetkan seorang anggota kelompok Jihad Islam yang dituduh merencanakan aksi terhadap tentara Israel. Namun, kelompok tersebut membantah tuduhan tersebut dan menyebut Israel sengaja mencari alasan untuk melanjutkan agresinya.
Serangan udara itu terjadi di kawasan Nuseirat, Jalur Gaza bagian tengah, dan menghantam sebuah mobil warga sipil. Rumah Sakit Al-Awda melaporkan menerima empat korban luka akibat serangan tersebut. Insiden ini kembali menambah ketegangan di tengah upaya rapuh menjaga perdamaian sementara di Gaza.
AS Angkat Bicara: Bukan Pelanggaran Gencatan Senjata
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington tidak memandang tindakan Israel tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pernyataan ini disampaikan Rubio di pesawat kepresidenan AS yang membawa Presiden Donald Trump.
“Kami tidak memandang itu sebagai pelanggaran gencatan senjata,” ujarnya.
Rubio menegaskan bahwa Israel tetap memiliki hak untuk membela diri, bahkan selama masa jeda konflik. Menurutnya, perjanjian yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan AS tidak menghapus hak Israel untuk menanggapi ancaman langsung.
Kesepakatan yang Rawan dan Tanggung Jawab Kedua Pihak
Rubio menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang disepakati sejak 10 Oktober lalu dibangun atas dasar kewajiban dua arah antara Israel dan Hamas. Dalam kesepakatan itu, Hamas wajib membebaskan seluruh sandera yang masih hidup dan menyerahkan jenazah yang telah meninggal, sementara Israel diwajibkan membebaskan sejumlah tahanan Palestina.
Hingga kini, Hamas baru menyerahkan 15 dari 28 jenazah sandera yang diwajibkan dalam tahap pertama kesepakatan. Kelompok itu mengaku kesulitan mengevakuasi jenazah yang tertimbun di bawah reruntuhan akibat serangan udara Israel sebelumnya.
Krisis Kemanusiaan yang Belum Usai
Sementara itu, pihak Hamas menyebut situasi di Gaza semakin buruk akibat serangan lanjutan Israel, meskipun gencatan senjata secara formal belum dicabut. Banyak keluarga masih mencari anggota mereka yang hilang di bawah puing bangunan yang hancur.
Organisasi internasional seperti Palang Merah (ICRC) dan tim penyelamat Mesir kini diperbolehkan masuk ke Gaza untuk membantu pencarian jenazah sandera. Namun, para pengamat menilai langkah ini belum cukup untuk memulihkan kepercayaan antar pihak yang terlibat dalam konflik.
Sumber: Detik.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







