Jurnal Pelopor – Uni Eropa menunjukkan sikap keras terhadap Israel di tengah perang Gaza yang kian memburuk. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengumumkan rencana pemberlakuan sanksi serta penghentian sebagian perdagangan dengan Israel. Langkah ini disebut sebagai titik balik besar, mengingat von der Leyen sebelumnya dikenal sebagai salah satu pendukung setia Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Von der Leyen Ubah Haluan
Dalam pidatonya di Parlemen Eropa, Strasbourg, Rabu (10/9), von der Leyen menegaskan bahwa penggunaan kelaparan sebagai alat perang tidak bisa diterima.
“Kelaparan buatan manusia tidak akan pernah bisa menjadi senjata perang. Demi anak-anak, demi kemanusiaan. Ini harus dihentikan,” tegasnya, yang langsung disambut tepuk tangan para anggota parlemen.
Selain mengusulkan sanksi, ia juga mengumumkan pembentukan kelompok donor internasional untuk Palestina. Inisiatif tersebut direncanakan diluncurkan bulan depan dan difokuskan pada rekonstruksi Gaza.
Dukungan Eropa Terpecah
Meski demikian, langkah Komisi Eropa ini belum tentu akan berjalan mulus. Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara kerap terpecah dalam menyikapi konflik Israel-Palestina. Beberapa negara cenderung mendukung garis keras terhadap Israel, sementara sebagian lain lebih hati-hati karena hubungan diplomatik dan kepentingan ekonomi.
Von der Leyen juga menyampaikan bahwa dukungan bilateral yang sebelumnya diberikan Komisi Eropa kepada Israel akan ditangguhkan.
“Kami akan menghentikan semua pembayaran di bidang-bidang ini, tanpa memengaruhi kerja sama dengan masyarakat sipil Israel atau Yad Vashem,” ujarnya.
Krisis Gaza Kian Parah
Sikap Uni Eropa ini muncul di tengah memburuknya kondisi Gaza. Sehari sebelum pernyataan von der Leyen, militer Israel memperingatkan warga Kota Gaza untuk segera mengungsi. Gaza disebut sebagai benteng terakhir Hamas, meski ratusan ribu warga sipil masih terjebak di wilayah tersebut.
Menurut data PBB, sekitar 1 juta warga Palestina kini berada di Gaza utara. Sebagian besar dari mereka telah berpindah berkali-kali, tetapi tetap tidak menemukan tempat aman.
Perang Gaza sendiri sudah mendekati dua tahun sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang di Israel dan menculik 251 orang. Saat ini, 48 sandera masih ditahan di Gaza, dengan 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan tanpa henti yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah menewaskan lebih dari 64.000 warga Palestina. PBB menilai angka itu kredibel, dengan setengah korban merupakan perempuan dan anak-anak.
Gaza Runtuh, Dunia Resah
Hingga kini, 90% dari 2 juta penduduk Gaza telah mengungsi, sementara sebagian besar kota hancur total akibat bombardir Israel. Situasi ini memicu tekanan internasional, termasuk dari Eropa, yang semakin tidak bisa menutup mata atas penderitaan rakyat Palestina.
Israel sendiri hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman sanksi dari Uni Eropa. Namun, pengamat menilai langkah Eropa ini bisa menjadi pukulan diplomatik besar yang memengaruhi posisi Israel di panggung global, terutama jika sanksi perdagangan benar-benar dijalankan.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







