Jurnal Pelopor – Kematian tragis menimpa Muhammad Athaya Helmi Nasution (18), mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Belanda. Ia meninggal dunia saat bertugas mendampingi kunjungan kerja sejumlah pejabat Indonesia di Wina, Austria, pada 27 Agustus 2025.
Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, mendesak investigasi penuh atas insiden ini. Ia menilai kasus tersebut menambah panjang daftar kematian mencurigakan di lingkungan Kementerian Luar Negeri (Kemlu).
“Tentu harus diinvestigasi secara menyeluruh penyebab kematian Muhammad Athaya Helmi ini, supaya terang benderang. Ini menjadi kejanggalan karena rentetan kematian di lingkungan Kemlu terus terjadi,” kata Oleh, Rabu (10/9/2025).
Seruan Investigasi Independen
Oleh menekankan, investigasi tidak boleh dilakukan secara sepihak. Ia mengusulkan adanya keterlibatan lembaga independen demi menjamin transparansi.
“Deteksi terhadap penyebab ini perlu ditemukan. Tentunya penyelidikannya harus transparan, dan kalau bisa melibatkan pihak independen,” ujarnya.
Legislator dari PKB ini juga menegaskan bahwa tragedi tersebut harus menjadi “alarm keras” bagi Kemlu untuk memperbaiki SOP perlindungan terhadap diplomat maupun diaspora Indonesia di luar negeri.
Kronologi Menurut PPI Belanda
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda, tempat Athaya bernaung, mengungkapkan kronologi kejadian yang disebut terkait kelalaian. Athaya diketahui bertugas penuh sejak pagi hingga malam sebagai liaison officer (LO) bagi delegasi Indonesia.
PPI Belanda menyebut penyebab kematian Athaya adalah heatstroke yang berujung stroke. Mereka juga mengecam sikap abai panitia acara, termasuk event organizer (EO) dan koordinator LO.
“Alih-alih menghentikan kegiatan saat almarhum menghembuskan napas terakhir, acara kunjungan kerja tetap berlangsung. EO justru sibuk menyiapkan makan malam bersama pejabat publik,” tulis PPI Belanda dalam pernyataan resmi.
Lebih jauh, keluarga Athaya disebut mendapati adanya indikasi penutupan informasi terkait kegiatan apa dan siapa yang sebenarnya dipandu almarhum di Wina.
Respons Kemlu RI
Direktur Jenderal Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Yudha Nugraha, memastikan KBRI Wina sudah memberikan pendampingan penuh, termasuk urusan administrasi, koordinasi dengan otoritas setempat, hingga pemulasaran jenazah.
“Sesuai permintaan keluarga, jenazah almarhum telah dipulangkan ke Tanah Air pada 4 September 2025,” kata Yudha.
Kemlu menegaskan Athaya memang dilibatkan untuk mendampingi delegasi RI dalam sejumlah pertemuan resmi dengan otoritas Austria.
Suara Duka dan Tuntutan Perbaikan
Atas tragedi ini, DPR RI menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga. Namun, desakan agar kasus tidak berhenti pada ucapan duka terus menguat. Banyak pihak menilai perlindungan terhadap pelajar, diaspora, dan tenaga pendukung acara kenegaraan harus ditingkatkan agar insiden serupa tidak terulang.
Sumber: Detik.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







