Jurnal Pelopor — Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Franz Magnis Suseno atau Romo Magnis, menilai perjalanan 80 tahun Indonesia sebagai negara merdeka sarat dinamika. Menurutnya, Indonesia pernah mengalami masa-masa mengerikan, namun selalu berhasil keluar dengan kondisi yang lebih baik.
Bangsa yang Pernah Terpuruk, Tapi Mampu Bangkit
Dalam konferensi pers Gerakan Nurani Bangsa bertema pesan kemerdekaan di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (14/8/2025), Romo Magnis mengingatkan publik bahwa sejarah Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Ia menyinggung peristiwa 1965–1966 dan kerusuhan 1998 sebagai contoh masa kelam bangsa.
“Indonesia 80 tahun mengalami macam-macam. Mengalami naik turun, mengalami hal-hal yang mengerikan. Tetapi setiap kali, akhirnya Indonesia keluar dengan lebih baik,” ujarnya.
Sejak datang ke Indonesia pada 1961, Romo Magnis mengaku selalu diterima dengan baik oleh masyarakat. Hal ini menambah keyakinannya bahwa bangsa Indonesia memiliki kekuatan untuk melewati krisis dan terus berkembang.
Dialog Antarumat Beragama Semakin Baik
Romo Magnis juga menyoroti perkembangan hubungan antarumat beragama. Menurutnya, dalam lima hingga enam dekade terakhir, relasi antaragama semakin membaik. Ia menyebut peran tokoh seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mendorong dialog lintas iman.
“Sekarang, uskup-uskup kami banyak yang mengenal tokoh-tokoh Muslim dan bisa saling mendukung. Itu luar biasa,” katanya.
Meski masih ada peristiwa intoleransi, Romo Magnis menegaskan bahwa hal itu wajar sebagai bagian dari sifat manusia. Namun, ia optimistis masalah tersebut dapat diatasi dengan komunikasi dan saling mengenal.
Tantangan Baru: Lingkungan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial
Lebih jauh, Romo Magnis menilai tantangan masa depan Indonesia tidak hanya datang dari dalam negeri, melainkan juga faktor global seperti kerusakan lingkungan hidup.
Ia mengapresiasi reformasi yang telah berhasil memasukkan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia ke dalam konstitusi. Namun, ia menekankan bahwa keadilan sosial masih jauh dari tercapai.
“Keadilan sosial di Indonesia belum tercapai meskipun ada kemajuan. Jangan-jangan 50 persen bangsa merasa Indonesia hanya milik mereka yang di atas,” kata Romo Magnis.
Ia juga mengingatkan bahaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang bisa merusak negara jika dibiarkan. Menurutnya, kemajuan bangsa bisa hancur oleh segelintir elite yang hanya mementingkan diri sendiri.
Optimisme untuk 100 Tahun Indonesia Merdeka
Meski penuh tantangan, Romo Magnis tetap optimistis. Ia percaya, dengan kerja sama dan saling mengingatkan, bangsa Indonesia bisa lebih maju saat merayakan 100 tahun kemerdekaan.
“Mari kita berusaha bersama. Saling memperingati, saling tegur dengan baik, agar bangsa ini benar-benar berhasil dalam 20 tahun ke depan,” pungkasnya.
Kesimpulan
Pesan Romo Magnis menjadi pengingat bahwa meski Indonesia pernah mengalami masa kelam, bangsa ini selalu mampu bangkit. Dengan dialog antaragama, komitmen demokrasi, serta perjuangan melawan ketidakadilan dan korupsi, optimisme untuk Indonesia yang lebih baik tetap terjaga menjelang satu abad kemerdekaan.
Sumber: Kompas.com
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







