Jurnal Pelopor – Dalam lanskap sejarah modern Timur Tengah, nama Ayatollah Ruhollah Khomeini berdiri sebagai sosok yang monumental. Ia bukan hanya pemimpin revolusi, tetapi juga arsitek dari sebuah sistem negara berbasis hukum Islam yang hingga kini masih bertahan di Iran. Kharismanya menjangkau jutaan rakyat Iran, sementara kontroversinya menggema hingga ke dunia Barat.
Dari Ulama Muda ke Pemimpin Perlawanan
Lahir pada 24 September 1902 di kota kecil Khomein, Iran, Ruhollah Mousavi Khomeini tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama Syiah. Sejak kecil, ia ditempa oleh pendidikan agama yang ketat. Ia mendalami fiqih, filsafat, dan tasawuf, dan tumbuh sebagai seorang pemikir kritis terhadap kekuasaan yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam.
Pada era 1960-an, Khomeini muncul sebagai tokoh oposisi paling vokal terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia mengecam modernisasi yang dianggap terlalu pro-Barat dan merusak nilai-nilai Islam. Ketika pemerintah Shah meluncurkan program “Revolusi Putih” termasuk reformasi tanah dan hak suara bagi perempuan Khomeini menolak keras, dan akhirnya ditangkap serta diasingkan selama 15 tahun ke Turki, Irak, dan Prancis.
Namun, pengasingan tidak membungkamnya. Justru dari Paris, ia menyebarkan ide-ide revolusi ke seluruh Iran, melalui kaset, buku, dan jaringan pendukung. Seruannya yang lantang untuk menggulingkan Shah menggema hingga ke desa-desa dan kota-kota Iran.
Puncak Revolusi dan Lahirnya Republik Islam
Puncak perjuangan Khomeini terjadi pada 1979, ketika Revolusi Iran meletus dan menumbangkan rezim Shah. Saat kembali ke Teheran, jutaan rakyat menyambutnya bak seorang penyelamat. Tak lama kemudian, Khomeini memproklamasikan berdirinya Republik Islam Iran, sistem baru yang menggabungkan demokrasi dengan hukum syariat.
Sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar), Khomeini memiliki kekuasaan absolut, melampaui presiden dan parlemen. Ia memperkenalkan konsep Wilayat al-Faqih kepemimpinan oleh ulama yang hingga hari ini menjadi pondasi teologis dan politis Iran.
Warisan, Kontroversi, dan Pengaruh yang Abadi
Khomeini dikenal sebagai figur kharismatik, tegas, dan ideologis, namun juga kontroversial. Di bawah kepemimpinannya, Iran berubah drastis: konstitusi diganti, hukum syariat ditegakkan, sistem pendidikan diislamisasi, dan hubungan dengan Barat terutama Amerika Serikat memburuk drastis.
Beberapa kebijakan keras seperti pemberangusan oposisi, pembatasan kebebasan perempuan, dan represi terhadap kebebasan sipil menuai kritik tajam. Namun, bagi para pendukungnya, Khomeini adalah simbol keberanian melawan tirani dan penjajahan budaya Barat.
Ia wafat pada 3 Juni 1989 dalam usia 86 tahun. Pemakamannya dihadiri lebih dari 10 juta orang, salah satu prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah modern. Meski jasadnya telah tiada, pengaruhnya masih hidup dalam struktur negara Iran dan dalam dinamika politik dunia Islam.
Kesimpulan
Ruhollah Khomeini bukan sekadar tokoh revolusi. Ia adalah pembentuk sejarah. Seorang ulama yang mengubah wajah negaranya dan meninggalkan warisan ideologis yang masih diperdebatkan hingga kini. Ia dikenang sebagai pahlawan oleh pengikutnya, namun sebagai tokoh kontroversial oleh lawan-lawan politiknya. Sejarah mencatat, bahwa dari kota kecil Khomein, lahir seorang pemikir yang mengguncang dunia.
Sumber: Liputan6
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







