• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home Nasional

Dedi Mulyadi: Orang Sunda Pamali Bisnis Tambang, Pilih Bertani!

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tegaskan, tambang itu pamali bagi orang Sunda, lebih baik bertani demi kelestarian alam.

musa by musa
05/06/2025
in Nasional
0
mulyadi
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor, Bandung – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menegaskan pandangannya bahwa bagi orang Sunda, bisnis pertambangan itu “pamali” atau tabu. Dalam budaya Sunda, lebih baik mengandalkan pertanian sebagai sumber kemakmuran, bukan eksploitasi tambang yang berisiko merusak alam dan kehidupan masyarakat.

Pamali Bisnis Tambang dalam Budaya Sunda

Dedi menyampaikan hal ini dalam pidatonya saat memperingati Hari Jadi Bogor ke-534, di hadapan DPRD Kota Bogor, Selasa (3/6/2025). Ia mempertanyakan, apakah benar tambang membawa kesejahteraan?

“Coba buatkan riset, tunjukkan pada saya, daerah mana yang terus-menerus ditambang rakyatnya makmur? Coba tunjukkan pada saya, di daerah mana yang tanahnya terus ditambang, rakyatnya tentram?” ujar Dedi dalam bahasa Sunda.

Menurut Dedi, orang Sunda sejak dulu meyakini bahwa tanah adalah Sunan Ambu atau Ibu Pertiwi yang harus dihormati dan dijaga seperti ibu sendiri. Merusak tanah dengan tambang, baginya, sama saja dengan memperkosa bumi.

Tanah Sunda: Tanah yang Subur dan Berkah

Dedi mengingatkan bahwa tanah Jawa Barat, khususnya tanah Sunda, adalah tanah yang subur dan sudah terbukti menghasilkan berbagai hasil bumi yang melimpah, seperti talas, durian, rambutan, dan manggis. Oleh sebab itu, menurutnya, tidak perlu menggali tanah terlalu dalam untuk mendapatkan rejeki, cukup manfaatkan secara bijak dan lestari.

“Tanah sudah subur, jadi tak perlu dibuat lubang atau galian besar. Bertanilah dan nikmati hasil alam yang sudah diberikan,” kata Dedi.

Pertanian sebagai Jalan Kemakmuran yang Berkelanjutan

Dedi mencontohkan Selandia Baru, sebuah negara kaya mineral yang memilih untuk tidak mengeksploitasi tambang secara besar-besaran. Mereka fokus pada pertanian dan peternakan, sehingga bisa hidup makmur sambil menjaga kelestarian alam.

“Selandia Baru punya sumber daya mineral luar biasa, tapi rakyatnya dilarang menambang. Mereka sudah makmur dengan hasil pertanian dan peternakan,” ujarnya.

Menurut Dedi, pola hidup agraris yang menghargai alam ini bukan tanda kemunduran, melainkan kunci kemajuan dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Menghargai Alam, Menghormati Budaya

Dalam budaya Sunda, kata Dedi, ada konsep pamali yang melarang perbuatan merusak alam. Larangan ini bukan sekadar aturan, melainkan bentuk kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun untuk menjaga keharmonisan manusia dengan alam.

“Mengapa batuan mineral di tanah Sunda disembunyikan kabut? Karena urang Sunda pahing nambang, teu meunang. Pamali,” kata Dedi.

Konsep ini mengingatkan kita bahwa menjaga alam bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal menghormati nilai-nilai budaya dan spiritual.

Kesimpulan

Pernyataan Dedi Mulyadi mengajak kita untuk kembali menghargai dan memelihara alam dengan cara yang bijak dan berkelanjutan. Alih-alih mengejar keuntungan cepat dari pertambangan, lebih baik mengembangkan pertanian yang sudah terbukti membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat Sunda.

Budaya, alam, dan kemakmuran bisa berjalan beriringan jika kita mampu menjaga dan menghormati keduanya.

Sumber: Liputan6

Baca Juga:

Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung

DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji

DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?

 

Tags: #DediMulyadi #JawaBarat #OrangSunda #PamaliTambang #Tolaktambang #PertanianLestari #BudayaSunda #LingkunganHidup #JurnalPelopor #Indonesia
Previous Post

Hidup Mewah dari Uang Judol? Istri Komdigi Bikin Heboh!

Next Post

OJK Wajibkan Peserta Asuransi Tanggung 10% Biaya Berobat, Solusi Tepat?

musa

musa

Related Posts

batu bara
Nasional

Satgas SIRI Berhasil Bekuk Buronan Kasus Batu Bara di Soetta

22/06/2026
obligasi
Nasional

Obligasi Danantara Laris, Investor Global Borong Hingga Melonjak

16/06/2026
mbg
Nasional

Program MBG Masuk Fase Baru, Fokus pada Kualitas Layanan

09/06/2026
Tio Pakusadewo
Nasional

Keluar Masuk Rumah Sakit, Kondisi Tio Pakusadewo Jadi Sorotan

05/06/2026
dadan
Nasional

Dadan Hindayana dan Dua Eks Pimpinan BGN Jadi Tersangka

04/06/2026
prabowo
Nasional

MBG Penting untuk Masa Depan Bangsa, Prabowo Minta Dijaga

04/06/2026
Next Post
ojk

OJK Wajibkan Peserta Asuransi Tanggung 10% Biaya Berobat, Solusi Tepat?

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.