Jurnal Pelopor — Presiden terpilih Prabowo Subianto kembali mendapat sorotan atas kekuatan politiknya yang luar biasa. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dalam acara DBS Asian Insight Conference 2025 di Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2025), menyebut Prabowo sebagai salah satu presiden terkuat dalam sejarah Indonesia.
Menurut Burhanuddin, kekuatan Prabowo tidak hanya berasal dari legitimasi elektoral yang sangat besar, tetapi juga dari dukungan yang solid di tingkat parlemen.
“Bayangkan, dari delapan partai politik yang ada di DPR, Prabowo berhasil mengamankan dukungan dari tujuh partai. Bahkan PDIP, yang secara teknis bukan bagian dari koalisi pemerintah, berperilaku seperti partai koalisi. Artinya, saat ini nyaris tidak ada oposisi yang berarti,” ujarnya.
Rekor Suara Terbesar dalam Sejarah Pemilihan Presiden Indonesia
Dalam Pemilu Presiden 2024, Prabowo berhasil meraih suara sebesar 96 juta pemilih. Ini merupakan rekor suara terbanyak dalam sejarah pemilihan langsung di Indonesia, mengungguli capaian Presiden Joko Widodo dalam dua periode sebelumnya. Bahkan, angka tersebut juga melebihi perolehan suara Presiden Joe Biden dalam pemilu Amerika Serikat 2020.
Burhanuddin menilai bahwa angka elektoral ini merupakan modal sosial politik yang sangat besar untuk pemerintahan Prabowo.
“Dukungan rakyat sangat kuat dan solid. Dari sisi elit politik, dukungan terhadap Pak Prabowo juga sangat kokoh. Modal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks,” tambahnya.
Tantangan Politik dan Ekonomi di Tahun-Tahun Mendatang
Meskipun memiliki dukungan yang luas, Burhanuddin mengingatkan adanya tantangan yang harus diantisipasi. Salah satu isu yang cukup mendapat perhatian adalah potensi konflik dalam koalisi pemerintah menjelang Pemilu 2029. Konflik ini terutama terkait dengan rencana revisi undang-undang pemilu yang menjadi pembahasan hangat di kalangan elit politik.
“Kalender politik menuju pemilu semakin dekat, hanya empat tahun lagi. Ini waktu yang tidak panjang bagi pemerintahan untuk menyelesaikan target-target ekonomi yang telah ditetapkan,” kata Burhanuddin.
Ia menjelaskan bahwa apabila pemerintah gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas politik, partai-partai dalam koalisi dapat mulai mengutamakan kepentingan elektoral mereka sendiri, yang berpotensi memicu gesekan internal.
“Partai-partai cenderung kembali fokus pada perolehan suara, sehingga solidaritas koalisi bisa diuji,” ujarnya.
Perspektif Ekonomi dan Politik Global
Selain tantangan domestik, Burhanuddin juga menyoroti dinamika ekonomi global yang berpengaruh pada Indonesia. Ketidakpastian pasar dunia, fluktuasi harga komoditas, dan ketegangan geopolitik menjadi faktor yang harus dihadapi pemerintahan Prabowo secara hati-hati.
Ia menilai bahwa modal politik dan sosial yang kuat dapat menjadi fondasi penting bagi pemerintahan untuk menjalankan kebijakan yang stabil dan responsif.
“Kepemimpinan yang kuat dan visi yang jelas diperlukan untuk membawa Indonesia menghadapi ketidakpastian global dan meraih kemajuan yang berkelanjutan,” tutupnya.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







