Jurnal Pelopor – Maskapai penerbangan Air Canada menghadapi kontroversi setelah sistem hiburan dalam pesawatnya menampilkan peta yang tidak mencantumkan Israel sebagai negara, melainkan menggantikannya dengan wilayah Palestina. Insiden ini pertama kali terungkap setelah seorang penumpang melaporkan ketidaksesuaian tersebut kepada pihak maskapai.
Menurut laporan dari New York Post, peta tersebut ditemukan pada sekitar 40 pesawat dalam armada Boeing 737 MAX milik Air Canada. Kesalahan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat akibat konflik antara Israel dan Hamas.
Permintaan Maaf Air Canada dan Tindakan Perbaikan
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis, 20 Maret 2025, Air Canada mengakui adanya ketidaksesuaian dalam tampilan peta dan segera mengambil tindakan untuk memperbaikinya. Maskapai tersebut menyebutkan bahwa peta yang ditampilkan berasal dari pihak ketiga, yakni grup teknologi kedirgantaraan asal Prancis, Thales.
“Kami menyadari bahwa peta interaktif dalam sistem hiburan armada Boeing 737 MAX kami tidak secara konsisten mencerminkan batas-batas Timur Tengah, termasuk batas negara Israel. Kami telah menonaktifkan peta tersebut dan menggantinya dengan versi yang telah diperbarui,” ujar perwakilan Air Canada
Thales, sebagai penyedia sistem hiburan pesawat, juga menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan akan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Bukan Insiden Pertama di Dunia Penerbangan
Kesalahan serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 2024, maskapai asal Amerika Serikat, JetBlue, menghadapi kritik setelah sistem peta di pesawatnya menunjukkan Israel sebagai wilayah Palestina. JetBlue akhirnya meminta maaf dan mengganti penyedia peta mereka.
Insiden ini menunjukkan betapa sensitifnya penggambaran batas wilayah di tengah konflik geopolitik yang masih berlangsung. Kesalahan dalam pemetaan dapat memicu reaksi keras dari berbagai pihak, terutama dalam konteks hubungan internasional.
Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. Pada Kamis, 20 Maret 2025, serangan udara Israel di laporkan menewaskan sedikitnya 58 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, di Jalur Gaza. Serangan ini terjadi setelah gencatan senjata yang sebelumnya di sepakati kembali di batalkan.
Menurut laporan dari Associated Press, lebih dari 400 warga Palestina tewas dalam serangan udara yang terjadi sepanjang pekan ini. Militer Israel menyatakan bahwa serangan mereka menargetkan fasilitas militan Hamas, meskipun banyak laporan yang menyebutkan korban sipil berjatuhan akibat serangan tersebut.
Di sisi lain, kelompok Houthi yang di dukung Iran di kabarkan menembakkan rudal ke arah Israel dari wilayah Yaman. Militer Israel mengklaim berhasil mencegat rudal tersebut sebelum mencapai wilayah udara mereka.
Reaksi Internasional
Insiden pemetaan oleh Air Canada dan eskalasi konflik di Timur Tengah telah menarik perhatian komunitas internasional. Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Kanada, menyerukan penyelesaian damai serta mengkritik peningkatan serangan di wilayah konflik.
Pihak Air Canada berharap bahwa permintaan maaf dan langkah perbaikan yang di ambil dapat mengembalikan kepercayaan penumpang mereka. Di sisi lain, perkembangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama dunia, dengan harapan agar konflik yang berkepanjangan ini dapat segera mereda.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Revisi UU TNI Disorot Media Asing, Bangkitnya Dwifungsi ABRI?
Klasemen Grup C: Indonesia Terperosok, Bahrain Ancaman!
Saksikan berita lainnya:







