Jurnal Pelopor – Kerja sampingan atau double job semakin menjadi pilihan bagi masyarakat kelas menengah Indonesia untuk menjaga kestabilan keuangan. Namun, di balik tambahan penghasilan tersebut, banyak pekerja harus menghadapi kelelahan fisik, tekanan mental, hingga berkurangnya waktu bersama keluarga.
Jajak pendapat Tim Media Sosial Liputan6.com di Instagram menunjukkan, 87% responden mengaku sudah memiliki pekerjaan sampingan atau sedang aktif mencarinya. Sementara itu, hanya 13% responden yang merasa cukup mengandalkan penghasilan dari pekerjaan utama.
Temuan tersebut menggambarkan tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian pekerja. Kenaikan biaya hidup dan penghasilan yang stagnan membuat pekerjaan tambahan bukan lagi sekadar pilihan untuk memperkaya diri, melainkan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kebutuhan Hidup Jadi Alasan Utama
Dalam jajak pendapat tersebut, sebanyak 34% responden menyatakan menjalani pekerjaan sampingan karena terdesak kebutuhan ekonomi.
Ketika ditanya alasan utama mencari penghasilan tambahan, 41% responden menyebut pemenuhan biaya hidup. Selanjutnya, 28% mengaku menghadapi gaji yang stagnan, sedangkan 18% khawatir terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Adapun 13% lainnya menjalani pekerjaan sampingan untuk mengembangkan minat atau passion.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi menjadi faktor dominan di balik fenomena kerja ganda. Ketika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak bertambah sebanding, pekerja harus mencari sumber penghasilan lain agar keuangan tetap berjalan.
Pekerjaan tambahan juga tidak selalu berbentuk pekerjaan formal. Sebagian orang memilih berdagang, membuka usaha rumahan, menjadi pengajar les, atau mengambil pekerjaan lepas di luar jam kerja utama.
Kerja Ganda Berisiko Menguras Kesehatan
Meskipun dapat menambah pemasukan, menjalani dua pekerjaan sekaligus membawa konsekuensi terhadap kualitas hidup.
Jajak pendapat Liputan6.com mencatat, 57% responden merasakan kelelahan berlebihan atau burnout serta berkurangnya waktu istirahat. Sementara itu, 24% responden mengaku kehilangan waktu bersama keluarga.
Jika digabungkan, 81% responden merasakan dampak berupa berkurangnya kualitas hidup akibat pekerjaan sampingan. Sebaliknya, hanya 12% yang menilai kondisi keuangan mereka menjadi lebih sehat setelah menjalani pekerjaan tambahan. Sebanyak 7% lainnya menyebut pekerjaan sampingan mengganggu pekerjaan utama.
Hasil ini menunjukkan bahwa tambahan pendapatan belum tentu sebanding dengan pengorbanan waktu dan tenaga. Sebagian pekerja tetap mempertahankan kinerja di kantor, tetapi harus membayar mahal melalui waktu istirahat yang semakin terbatas.
Kisah Pekerja yang Berjuang Menambah Penghasilan
Dwi Rachmawati, 29 tahun, merupakan salah satu pekerja yang merasakan tekanan tersebut. Perempuan yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta itu mengaku harus mencari pemasukan tambahan karena biaya belanja bulanan, susu anak, dan kebutuhan sekolah semakin membebani keuangan keluarga.
Di tengah rutinitas kerja delapan jam sehari dari Senin hingga Jumat, termasuk lembur, Dwi juga menjalankan tanggung jawab rumah tangga. Ia akhirnya memilih berjualan makanan penutup atau dessert dengan sistem prapesan ketika memiliki waktu luang dan pada akhir pekan.
Dwi mengakui bahwa membagi waktu antara pekerjaan kantor, usaha sampingan, dan keluarga bukan perkara mudah. Meski demikian, ia tetap menjalankan usahanya agar kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.
Tekanan serupa dialami Arifqi, 42 tahun. Menurutnya, sebagian masyarakat kini merasa perlu memiliki dua, bahkan tiga sumber penghasilan karena pendapatan yang diterima tidak sebanding dengan pengeluaran.
Cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi salah satu beban yang harus dipertahankan pembayarannya. Ia berusaha menjaga kepemilikan rumah sebagai bentuk perlindungan apabila sewaktu-waktu menghadapi pengurangan tenaga kerja atau kehilangan pekerjaan.
Lulusan Baru Juga Menghadapi Tekanan Ekonomi
Fenomena kerja ganda tidak hanya dialami pekerja yang telah berkeluarga. Marcelia Christine, 22 tahun, juga menjalani pekerjaan sampingan sebagai guru bimbingan belajar di luar pekerjaan utamanya.
Sebagai lulusan baru, Marcelia ingin mengembangkan keterampilan sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, ia mengakui bahwa gaji sebagai pegawai swasta tingkat awal belum cukup untuk menutup biaya hidup.
Ia juga menghadapi tekanan karena pekerjaan utamanya tidak sesuai dengan minat yang ingin dikembangkan. Meski demikian, kebutuhan finansial membuatnya harus tetap bekerja sambil mencari kesempatan lain.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa pekerja muda menghadapi tantangan ganda: mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan minat, sekaligus memastikan penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Double Job Bukan Solusi Jangka Panjang
Meningkatnya kebutuhan untuk bekerja ganda menjadi sinyal bahwa persoalan ekonomi tidak selalu dapat diselesaikan melalui usaha individu. Pekerjaan sampingan memang bisa membantu menambah pemasukan, tetapi tidak otomatis menjamin kestabilan keuangan dalam jangka panjang.
Jika terus dilakukan tanpa waktu istirahat yang memadai, pola kerja tersebut berisiko mengganggu kesehatan dan hubungan keluarga. Karena itu, diperlukan perhatian terhadap ketersediaan lapangan kerja, kecukupan upah, perlindungan pekerja, serta peluang peningkatan keterampilan.
Di sisi lain, pekerja perlu mempertimbangkan kemampuan fisik, waktu, dan potensi pendapatan bersih sebelum mengambil pekerjaan tambahan. Penghasilan yang meningkat sebaiknya tidak dibayar dengan pengorbanan kesehatan secara terus-menerus.
Pada akhirnya, fenomena double job bukan sekadar tren mencari uang tambahan. Bagi sebagian kelas menengah, praktik ini telah menjadi strategi untuk bertahan di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan.
Menurut Anda, apakah kerja sampingan merupakan solusi realistis untuk memperbaiki kondisi ekonomi, atau justru menjadi tanda bahwa penghasilan dari pekerjaan utama belum cukup untuk hidup layak?
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







