Jurnal Pelopor – Thomas Tuchel mengakui dirinya melakukan kesalahan ketika Timnas Inggris menghadapi Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026. Pelatih The Three Lions itu menilai keputusan mengubah formasi pada babak kedua dilakukan terlalu cepat ketika pertandingan mulai berubah.
Kekalahan tersebut masih membekas bagi Tuchel. Bahkan, ia mengaku belum sanggup menyaksikan kembali pertandingan secara penuh sejak Inggris tersingkir. Tuchel baru menonton sejumlah cuplikan bersama staf kepelatihannya di St George’s Park.
Dalam evaluasinya, Tuchel melihat Argentina mampu mengubah tempo pertandingan setelah jeda. Pengalaman, mentalitas, serta kecepatan permainan Argentina membuat Inggris berada dalam tekanan yang semakin besar.
Tuchel Masih Sulit Menonton Kekalahan
Tuchel menggambarkan kekalahan dari Argentina sebagai pengalaman yang sangat menyakitkan. Ia mengatakan pertandingan tersebut menjadi luka yang harus diterima dan dijadikan bagian dari proses pembelajaran.
“Ini penderitaan dalam skala yang luar biasa. Saya baru menonton cuplikannya bersama para pelatih pekan lalu ketika kami berada di St George’s Park,” ujar Tuchel dalam acara Reflections milik FA.
Menurutnya, ia lebih sering berusaha melihat ke depan setelah pertandingan. Karena itu, melihat kembali pertandingan tersebut secara utuh bukan perkara mudah baginya.
“Rasanya menyakitkan. Sekarang saya melihatnya untuk pertama kali dari sudut pandang komentator. Ini adalah luka saya, luka para pemain, dan saya harus hidup dengannya,” katanya.
Meski begitu, Tuchel tetap berusaha mengambil pelajaran dari pertandingan tersebut. Ia tidak hanya melihat kesalahan pemain, tetapi juga mengakui keputusan yang dibuatnya sendiri ikut memengaruhi jalannya pertandingan.
Salah Membaca Perubahan Momentum
Tuchel menilai Inggris sebenarnya menjalankan rencana dengan cukup baik pada babak pertama. Pertandingan berlangsung seimbang dan Inggris mampu menjaga posisi mereka dalam permainan.
Namun, situasi berubah setelah turun minum. Tuchel menyebut tekel Djed Spence menjadi salah satu momen yang memengaruhi pola pikir tim.
“Sejak awal babak kedua, saya melihat adanya perubahan. Tekel Djed Spence yang terkenal itu. Hal tersebut memengaruhi saya dan juga para pemain, lalu terjadi perubahan pola pikir,” jelasnya.
Tuchel menilai Inggris kemudian bermain seperti pertandingan hampir berakhir. Padahal, waktu yang tersisa masih sekitar 30 menit.
“Kami bermain seolah-olah hanya tersisa empat menit, padahal masih ada setengah jam,” lanjutnya.
Di sisi lain, Argentina justru meningkatkan tempo permainan. Mereka tampil lebih agresif dan mampu memberikan tekanan kepada Inggris.
Formasi Lima Bek Diubah Terlalu Cepat
Melihat tekanan Argentina, Tuchel kemudian mengambil keputusan untuk mengubah sistem permainan. Ia mempertimbangkan penggunaan formasi lima bek dengan pola 5-4-1.
Namun, setelah melakukan evaluasi, Tuchel menyadari keputusan tersebut mungkin diambil terlalu cepat.
“Argentina bermain dengan sangat cepat. Mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Kami memberikan mereka peluang tepat sebelum jeda minum,” ujar Tuchel.
Ia kemudian berpikir bahwa Inggris tidak akan mampu bertahan dengan pola permainan tersebut. Karena itu, perubahan formasi dilakukan untuk mengamankan pertahanan.
“Saya berpikir, ‘Oke, mari kita ubah menjadi lima bek, 5-4-1.’ Itu terlalu cepat untuk pola pikir seperti itu,” tuturnya.
Tuchel juga mengakui kondisi fisik pemain menjadi pertimbangan. Inggris telah melewati beberapa pertandingan berat sepanjang turnamen, termasuk menghadapi Kongo, Miami, Norwegia, dan Meksiko dalam kondisi yang menuntut fisik.
Tuchel Jadikan Kekalahan sebagai Pelajaran
Dari pengalaman tersebut, Tuchel menyadari seorang pelatih harus mampu menjaga ketenangan ketika momentum pertandingan berubah. Ia menilai tim seharusnya tetap bermain berdasarkan situasi aktual, bukan terburu-buru merespons tekanan.
“Anda belajar sebagai seorang pelatih. Anda harus bermain seolah-olah skor masih 0-0. Itu termasuk saya juga,” kata Tuchel.
Inggris akhirnya gagal mencapai target utama mereka di Piala Dunia 2026. Meski demikian, Tuchel tetap mengaku bangga dengan perjalanan timnya sepanjang turnamen.
Menurutnya, pengalaman pahit tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pemain. Ia berharap skuad Inggris mampu kembali dengan motivasi lebih besar pada kesempatan berikutnya.
“Kami tidak mencapai apa yang kami inginkan. Namun, saya tetap sangat bangga dengan apa yang telah kami capai. Para pemain ini akan kembali dengan rasa lapar yang lebih besar,” pungkas Tuchel.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







