Jurnal Pelopor – Di balik rasa manis dan aroma khas kecap Bango, ternyata ada perjalanan panjang yang melibatkan petani, peneliti, hingga industri. Salah satu bahan utamanya adalah kedelai hitam Malika, varietas lokal yang dikembangkan melalui kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Unilever Indonesia.
Kedelai Malika menjadi menarik karena lahir dari kebutuhan industri sekaligus upaya mengembangkan potensi pertanian lokal. Varietas ini kemudian berkembang menjadi bagian penting dalam rantai pasok kecap Bango dan melibatkan ribuan petani di berbagai wilayah Pulau Jawa.
Berawal dari Kebutuhan Kedelai Lokal
Indonesia merupakan salah satu negara dengan konsumsi kedelai yang tinggi. Kedelai digunakan dalam berbagai makanan populer seperti tahu, tempe, hingga kecap. Namun, tingginya kebutuhan tersebut belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh produksi kedelai dalam negeri.
Data BPS yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan produktivitas kedelai nasional pada 2022 sekitar 1,54 ton per hektare dengan produksi sekitar 301 ribu ton. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan mencapai hampir 2,8 juta ton sehingga Indonesia masih sangat bergantung pada impor.
Kondisi inilah yang membuat pengembangan kedelai lokal menjadi penting. Kedelai Malika kemudian hadir sebagai salah satu upaya untuk memperkuat produksi kedelai hitam sekaligus menciptakan hubungan yang lebih erat antara petani dan industri.
Dari Riset UGM ke Lahan Petani
Cerita kedelai Malika bermula pada awal 2000-an. Saat itu, Unilever Indonesia melalui merek Bango membutuhkan pasokan kedelai hitam lokal dengan kualitas yang konsisten untuk mempertahankan karakter rasa kecapnya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, peneliti UGM mengembangkan varietas kedelai hitam yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi lahan dan iklim Indonesia. Kolaborasi antara kebutuhan industri dan penelitian tersebut kemudian melahirkan varietas Malika, yang secara resmi diakui sebagai varietas unggul nasional pada 2007.
Malika memiliki warna hitam pekat dan karakter rasa yang sesuai untuk bahan baku kecap. Kulit bijinya juga mengandung antosianin yang menjadi salah satu karakteristik kedelai hitam dan membuatnya menarik dari sisi kandungan senyawa bioaktif.
Dari 5 Hektare hingga Ribuan Petani
Kemitraan Bango dengan petani disebut telah dimulai dari lahan sekitar 5 hektare di Jawa Tengah pada 2001. Program tersebut kemudian berkembang dan melibatkan petani dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Menurut laporan keberlanjutan Unilever Indonesia 2015-2016, kemitraan tersebut telah melibatkan lebih dari 10.500 petani di lebih dari 20 kabupaten yang tersebar di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Petani tidak hanya mendapatkan benih, tetapi juga memperoleh pendampingan mengenai teknik budidaya. Dalam beberapa skema, benih diberikan melalui sistem peminjaman yang kemudian dikembalikan dalam bentuk hasil panen.
Rantai Pasok yang Dibangun Bersama
Salah satu keunikan program ini terletak pada pola rantai pasoknya. Unilever tidak sekadar mengandalkan pasar bebas, tetapi membangun kemitraan langsung dengan kelompok tani yang telah mendapatkan pembinaan.
Hasil panen kemudian dikumpulkan melalui koperasi atau kelompok mitra sebelum masuk ke dalam rantai pengolahan kecap Bango. Pola tersebut memberikan kepastian penyerapan hasil sekaligus membantu industri memperoleh bahan baku dengan kualitas yang lebih terkontrol.
Bagi petani, adanya pembeli yang jelas juga menjadi keuntungan tersendiri. Mereka memiliki kepastian pasar sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga kedelai di pasar umum.
Bukan Sekadar Bahan Baku Kecap
Kedelai hitam Malika juga memiliki karakteristik nutrisi yang menarik. Sejumlah penelitian menunjukkan kedelai hitam memiliki kandungan polifenol dan antioksidan yang relatif tinggi, terutama karena adanya antosianin pada kulit bijinya.
Kandungan protein Malika yang disebut dalam sejumlah publikasi pertanian juga tergolong tinggi. Namun, berbagai klaim mengenai manfaat kesehatan kedelai hitam tetap perlu dilihat berdasarkan jenis penelitian dan bukti ilmiah yang tersedia.
Dengan karakter tersebut, kedelai Malika bukan hanya memiliki nilai ekonomi sebagai bahan baku industri, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu sumber pangan lokal bernilai tambah.
Tantangan Masih Menghadang
Meski program kemitraan telah berkembang, perjalanan kedelai Malika bukan tanpa tantangan. Produktivitas kedelai nasional masih relatif rendah sehingga kedelai lokal harus bersaing dengan produk impor yang dapat ditawarkan dengan harga lebih kompetitif.
Petani juga menghadapi risiko perubahan iklim yang dapat memengaruhi pola tanam hingga hasil panen. Di sisi lain, ketergantungan terhadap satu pembeli besar juga perlu dikelola agar petani tetap memiliki ketahanan ekonomi ketika terjadi perubahan kebijakan atau kondisi pasar.
Karena itu, pengembangan kedelai lokal membutuhkan dukungan yang lebih luas. Teknologi pertanian, peningkatan produktivitas, penguatan koperasi, digitalisasi rantai pasok, serta kebijakan pemerintah dapat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Dari Ladang hingga Meja Makan
Kisah kedelai Malika menunjukkan bahwa sebuah produk yang terlihat sederhana di meja makan ternyata memiliki rantai perjalanan yang panjang. Ada benih yang dikembangkan peneliti, petani yang menanam dan merawatnya, hingga industri yang mengolahnya menjadi produk yang dikenal masyarakat.
Lebih dari sekadar bahan baku kecap, Malika menjadi contoh bagaimana riset, industri, dan petani dapat dipertemukan dalam satu rantai nilai. Jika model seperti ini terus dikembangkan, varietas lokal bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Pada akhirnya, setiap tetes kecap yang hadir dalam masakan Nusantara menyimpan cerita dari hulu ke hilir. Dari tanah tempat kedelai ditanam, tangan petani yang merawatnya, hingga proses pengolahan di industri semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang menjaga cita rasa Indonesia.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







