Jurnal Pelopor — Lionel Messi menjadi salah satu sosok yang paling banyak diperbincangkan sepanjang Piala Dunia 2026. Namun, berbeda dengan euforia pada edisi 2022 ketika ia mendapat dukungan luas untuk meraih trofi dunia pertamanya, kali ini kapten Timnas Argentina justru dihujani kritik di media sosial.
Berbagai insiden selama turnamen, mulai dari keputusan wasit, pelanggaran pemain Argentina, hingga kontroversi di partai final melawan Spanyol, memicu gelombang komentar negatif terhadap sang megabintang. Bahkan, Messi sempat mendapat cap sebagai pemain “cheat” hingga “villain” dari sebagian pengguna media sosial.
Lantas, mengapa sentimen publik terhadap Messi berubah begitu drastis?
Algoritma Media Sosial Dinilai Memperkuat Narasi
Analis sekaligus content strategist di bidang private markets, Rosie (@therosieum), menilai perubahan persepsi publik tidak semata-mata dipengaruhi penampilan Messi di lapangan. Menurutnya, algoritma media sosial memiliki peran besar dalam menentukan konten apa yang paling sering muncul di beranda pengguna.
Konten yang memancing emosi, kemarahan, perdebatan, atau kontroversi cenderung memperoleh interaksi lebih tinggi. Akibatnya, unggahan yang menampilkan Messi dalam sudut pandang negatif lebih sering direkomendasikan kepada pengguna dibandingkan konten yang bersifat netral.
Rosie menjelaskan bahwa pembentukan opini publik sering kali tidak dimulai dari informasi palsu sepenuhnya, melainkan dari potongan kejadian nyata yang disajikan tanpa konteks utuh.
Potongan Video Bisa Mengubah Persepsi
Sepanjang Piala Dunia 2026, banyak cuplikan pertandingan Argentina beredar dalam bentuk video pendek. Beberapa hanya menampilkan momen tertentu, misalnya pelanggaran, protes kepada wasit, atau keributan antarpemain tanpa memperlihatkan rangkaian kejadian sebelumnya.
Ketika potongan-potongan video seperti itu terus muncul dengan narasi yang sama, publik perlahan membentuk kesimpulan meskipun tidak menyaksikan pertandingan secara lengkap. Rosie menyebut fenomena ini sebagai salah satu cara narasi berkembang di media sosial, yakni melalui pengulangan informasi yang mengarahkan opini publik.
Penelitian MIT: Informasi Palsu Menyebar Lebih Cepat
Rosie juga mengutip penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menganalisis sekitar 126.000 rangkaian berita di Twitter selama 11 tahun.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa informasi yang tidak benar dapat menyebar lebih cepat dibandingkan informasi yang telah terverifikasi. Bahkan, informasi palsu disebut memiliki peluang sekitar 70 persen lebih besar untuk dibagikan ulang dibandingkan informasi yang benar.
Kondisi inilah yang dinilai membuat narasi tertentu dapat berkembang sangat cepat ketika didorong oleh banyak interaksi pengguna.
Tidak Menuduh Ada Kampanye Terkoordinasi
Meski menyinggung kemungkinan adanya operasi pembentukan opini yang dilakukan secara sistematis melalui jaringan kreator konten, kalender publikasi, maupun strategi distribusi digital, Rosie menegaskan dirinya tidak memiliki bukti bahwa seluruh sentimen negatif terhadap Messi berasal dari kampanye yang terorganisasi atau berbayar.
Analisisnya lebih berfokus pada bagaimana mekanisme media sosial bekerja dalam memperkuat sebuah narasi ketika memperoleh respons besar dari pengguna. Ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep psikologi illusory truth effect, yaitu kecenderungan seseorang menganggap suatu informasi sebagai benar hanya karena melihatnya berulang kali, meskipun kebenarannya belum terbukti.
AI Mempercepat Penyebaran Konten
Rosie menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mempercepat penyebaran narasi di internet. Jika dahulu produksi konten dalam jumlah besar membutuhkan biaya tinggi dan sumber daya yang besar, kini AI memungkinkan pembuatan artikel, gambar, video, hingga komentar dalam waktu singkat dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Ia juga mengutip data NewsGuard yang mencatat pertumbuhan situs berbasis AI secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa ekosistem informasi digital berubah dengan sangat cepat.
Publik Perlu Tetap Kritis
Fenomena yang dialami Messi selama Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana opini publik di era digital dapat terbentuk dari perpaduan antara kejadian nyata, cara penyajian informasi, serta mekanisme algoritma media sosial. Karena itu, pengguna internet diimbau untuk tidak hanya mengandalkan potongan video atau unggahan viral, melainkan melihat konteks secara utuh sebelum menarik kesimpulan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah fakta dan memverifikasi sumber menjadi semakin penting agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu menggambarkan keseluruhan peristiwa.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v






