Jurnal Pelopor — Juru Bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, memberikan klarifikasi tegas terkait pernyataan JK yang menyebut bahwa “Jokowi jadi Presiden karena saya.” Pernyataan ini muncul sebagai respons atas tudingan dari para loyalis Jokowi yang menyebut JK tidak tahu terima kasih karena telah dijadikan Wakil Presiden pada 2014 lalu.
1. Alasan JK Akhirnya Bicara
Husain menyebut JK terpaksa mengungkap perannya karena sudah lama memendam rasa kesal terhadap narasi “balas budi” yang kerap diarahkan kepadanya. JK ingin menegaskan bahwa dalam hubungan politik tersebut, kontribusinya di masa awal karier Jakarta Jokowi sangatlah krusial.
2. Pintu Masuk ke Jakarta (Pilgub 2012)
Menurut Husain, sejarah mencatat bahwa JK-lah sosok yang mempromosikan dan membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta untuk bertemu Megawati Soekarnoputri.
-
Pintu Gerbang: JK meyakinkan Megawati agar mencalonkan Jokowi di Pilgub DKI Jakarta 2012.
-
Argumen: Tanpa kiprah di Jakarta, Husain menilai peluang Jokowi untuk maju di Pilpres 2014 mungkin tidak akan pernah ada.
3. Syarat Mutlak Megawati di Pilpres 2014
Husain mengungkapkan fakta menarik di balik penetapan pasangan capres-cawapres tahun 2014:
-
Bukan Pilihan Jokowi: JK menjadi cawapres bukan karena dipilih langsung oleh Jokowi, melainkan atas permintaan mutlak dari Megawati Soekarnoputri.
-
Alasan Pengalaman: Saat itu, Megawati disebut tidak bersedia menandatangani pengesahan pencalonan Jokowi jika tidak didampingi oleh JK, karena Jokowi dianggap masih belum berpengalaman di level nasional meski elektabilitasnya tinggi.
4. Terkait Isu Ijazah dan Tuduhan Rismon Sianipar
Kekesalan JK memuncak dipicu oleh tuduhan Rismon Sianipar yang menyebut JK mendanai gerakan terkait isu ijazah palsu Jokowi. JK dengan tegas membantah hal tersebut dan merasa dipolitisasi, terutama setelah ia melaporkan Rismon ke pihak kepolisian.
Poin Utama dari Husain Abdullah:
“Catatan pentingnya di sini, bukan Jokowi yang menetapkan JK sebagai pasangannya, melainkan langsung atas permintaan Ibu Mega… Jadi siapa sebenarnya yang berutang budi?”
Ketegangan antara tokoh senior ini menunjukkan bahwa “romantisme” politik 2014 kini telah berubah menjadi kalkulasi sejarah yang berbeda di mata masing-masing pihak.
Menurut Anda, dalam dunia politik yang dinamis ini, apakah relevan membicarakan “utang budi” masa lalu ketika arah politik keduanya kini sudah tidak lagi sejalan?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v







