Jurnal Pelopor — Di saat banyak orang menghindari kotornya air Kali Ciliwung, Arief Kamaruddin justru rutin menceburkan diri. Pegiat lingkungan berusia 34 tahun asal Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini, menjadi sorotan setelah video aktivitasnya menangkap ikan sapu-sapu spesies invasif yang mendominasi sungai-sungai Jakarta viral di jagat maya.
Berawal dari Hobi Menjala yang Berubah Jadi Resah
Bagi Arief, menjala ikan di Ciliwung adalah hobi sejak duduk di bangku SMP. Namun, hobi itu perlahan berubah menjadi kekhawatiran. Setiap kali melemparkan jala, alih-alih mendapatkan ikan konsumsi seperti nila atau gurame, ia justru terus-menerus mendapatkan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar.
“Saya ngejala itu enggak pengen dapat sapu-sapu. Emang pengen dapat ikan yang bisa dikonsumsi. Tapi karena saking banyaknya, dapetnya sapu-sapu mulu,”
kenangnya. Keresahan inilah yang mendorongnya mempelajari dampak spesies ini terhadap ekosistem asli sungai.
Bertaruh Nyawa di Balik Konten “Happy”
Meski dalam unggahan media sosialnya Arief tampak menikmati kegiatannya, realita di lapangan jauh lebih ekstrem. Arief mengungkapkan bahwa setiap kali turun ke Ciliwung, ia harus berhadapan dengan risiko yang mengancam nyawa.
-
Limbah Berbahaya: Paku, pecahan kaca (beling), hingga ranting tajam tersembunyi di dasar sungai.
-
Ancaman Alam: Risiko tenggelam karena arus yang tak terduga hingga bertemu ular berbisa.
-
Target Harian: Dengan metode konvensional, ia mampu mengangkat 30 hingga 50 ekor ikan sapu-sapu beserta telur-telurnya dalam waktu 1-3 jam sehari.
Pesan Penting: Sapu-Sapu Bukan “Biang Kerok” Utama
Menariknya, meskipun ia aktif membasmi ikan sapu-sapu, Arief mengingatkan publik bahwa ikan ini bukan penyebab utama rusaknya Ciliwung. Menurutnya, sampah dan limbah tetaplah musuh nomor satu. Ikan sapu-sapu hanyalah faktor yang memperparah kondisi ekosistem yang sudah rapuh.
Arief juga mengakui bahwa membasmi total ikan ini hampir mustahil. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk melakukan riset agar ikan sapu-sapu bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomis, misalnya sebagai pupuk. Jika sudah memiliki nilai jual, masyarakat dengan sendirinya akan ikut memburu dan populasi ikan ini pun akan terkontrol secara alami.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v







