Jurnal Pelopor — Kasus campak di Indonesia ternyata tidak hanya menyerang anak-anak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sekitar 8% kasus justru terjadi pada kelompok usia dewasa. Fakta ini menjadi alarm baru, karena selama ini campak sering dianggap penyakit ringan yang hanya dialami anak-anak.
Kenapa Orang Dewasa Bisa Terkena Campak?
Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, menjelaskan bahwa orang dewasa tetap berisiko tertular meski sudah pernah divaksin. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi daya tahan tubuh dan tingkat paparan virus.
Selain itu, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi. Misalnya, penderita penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, hingga mereka yang mengalami gangguan imun seperti HIV/AIDS atau kanker.
Tenaga kesehatan juga termasuk kelompok rentan karena intensitas paparan virus yang lebih tinggi dalam pekerjaan sehari-hari.
Sudah Vaksin, Kenapa Masih Bisa Terinfeksi?
Di sisi lain, vaksin campak memang memberikan perlindungan, tetapi tidak selalu bertahan seumur hidup. Program imunisasi di Indonesia umumnya diberikan dua kali saat anak-anak, dengan tambahan booster di usia sekolah.
Namun seiring bertambahnya usia, perlindungan tersebut bisa menurun. Apalagi jika kondisi tubuh sedang tidak optimal.
Meski begitu, orang yang sudah divaksin biasanya mengalami gejala yang lebih ringan dibanding yang belum pernah imunisasi sama sekali.
Risiko Komplikasi Lebih Serius
Berbeda dengan anak-anak, campak pada orang dewasa bisa berkembang menjadi lebih serius. Dalam beberapa kasus, infeksi dapat memicu komplikasi yang berbahaya, terutama bagi mereka dengan kondisi kesehatan tertentu.
Gejala awal seperti demam, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kulit tidak boleh dianggap sepele. Jika muncul bersamaan, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis.
Wacana Perluasan Vaksinasi
Melihat tren ini, Kemenkes mulai mengkaji kemungkinan perluasan vaksinasi campak untuk orang dewasa. Fokus utama adalah kelompok berisiko tinggi, seperti tenaga kesehatan.
Langkah ini diharapkan bisa menekan penyebaran sekaligus mencegah munculnya kasus berat di masa depan.
Pada akhirnya, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Menjaga imun tubuh dan tidak mengabaikan gejala awal bisa menjadi langkah sederhana yang menyelamatkan.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







