Jurnal Pelopor — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan akan dihentikan sementara selama periode libur Lebaran 2026. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh penerima manfaat, termasuk siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta anak balita.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa penyaluran terakhir untuk siswa dilakukan pada 13 Maret 2026. Sementara itu, distribusi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita berakhir pada pertengahan Maret sebelum memasuki masa libur Idul Fitri.
Program ini dijadwalkan kembali berjalan normal pada 31 Maret 2026, setelah periode Lebaran usai.
Alasan Penghentian Sementara
Penghentian sementara MBG tidak hanya mengikuti kalender libur nasional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya efisiensi anggaran negara. Pemerintah mengklaim kebijakan ini mampu menghemat hingga sekitar Rp 5 triliun.
Menurut Dadan, langkah ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu memiliki sense of crisis dalam mengelola anggaran negara secara lebih hati-hati.
Ia menegaskan bahwa efisiensi tidak berarti mengurangi tujuan utama program, melainkan mengoptimalkan penggunaan anggaran agar lebih tepat sasaran.
Strategi Pengelolaan Anggaran
BGN saat ini memiliki pagu anggaran sebesar Rp 268 triliun untuk menjalankan program MBG. Selain itu, terdapat dana cadangan atau standby sebesar Rp 67 triliun yang disiapkan pemerintah.
Namun, pihak BGN berupaya untuk tidak menggunakan dana cadangan tersebut. Fokus utama adalah memaksimalkan anggaran yang sudah dialokasikan agar program tetap berjalan efektif tanpa pemborosan.
Langkah efisiensi ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan ekonomi global.
Dampak bagi Penerima Manfaat
Penghentian sementara program tentu berdampak pada masyarakat yang selama ini bergantung pada MBG, terutama siswa dan kelompok rentan seperti ibu hamil serta balita.
Meski hanya bersifat sementara, kebijakan ini menimbulkan perhatian terkait keberlanjutan asupan gizi bagi penerima manfaat selama periode libur.
Pemerintah diharapkan dapat memastikan bahwa jeda program ini tidak berdampak signifikan terhadap kondisi gizi masyarakat, terutama bagi kelompok yang paling membutuhkan.
Dengan rencana operasional kembali pada akhir Maret, publik kini menunggu bagaimana pemerintah memastikan program ini tetap berjalan optimal sekaligus efisien di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







