Jurnal Pelopor – Setahun setelah menjabat, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan taji di sektor ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 5,11%. Namun, di balik angka tersebut, narasi bahwa Prabowo masih berada di bawah “bayang-bayang” Jokowi terus mengemuka, memicu reaksi langsung dari sang Presiden.
1. Bantahan dari Kertanegara
Presiden Prabowo nampaknya menyadari betul bisik-bisik publik mengenai pengaruh pendahulunya. Dalam sebuah pertemuan di Kertanegara yang diceritakan oleh tokoh kritis Said Didu, Prabowo secara eksplisit menegaskan keinginannya agar publik tidak salah paham.
“Jangan menganggap saya ini di bawah bayang-bayang Jokowi,” ujar Said Didu menirukan kalimat Presiden (12/2/2026).
2. Jejak “Utang Budi” dan Simbolisme Militer
Penulis kolom menyoroti beberapa titik balik yang mempererat hubungan kedua tokoh ini, yang sering dianggap sebagai beban sejarah bagi kemandirian Prabowo:
-
Pangkat Jenderal Kehormatan: Penganugerahan bintang empat oleh Jokowi pada Februari 2024 dianggap sebagai momen Prabowo “menjemput mimpi” yang sempat kandas di tahun 1998.
-
Titik Balik 2019: Keputusan Jokowi merangkul rivalnya menjadi Menteri Pertahanan yang secara drastis melemahkan kekuatan oposisi di DPR.
3. Kabinet Merah Putih: Wajah Lama, Agenda Baru?
Faktor yang paling memperkuat hipotesis “bayang-bayang” adalah keberlanjutan personel. Sebanyak 17 menteri dan wakil menteri dari era Jokowi ditarik masuk ke Kabinet Merah Putih. Hal ini menunjukkan bahwa secara administratif, Prabowo memang mengadopsi struktur yang telah dibangun Jokowi, meski ia tetap membawa narasi populisme progresif khas dirinya.
Analisis Relasi Prabowo-Jokowi
| Fase Hubungan | Transformasi Politik | Dampak |
| Kontestasi (2014 & 2019) | Rivalitas keras “Cebong vs Kampret”. | Pembelahan sosial yang tajam. |
| Koalisi (2019-2024) | Prabowo menjabat Menteri Pertahanan. | Melemahnya checks and balances di parlemen. |
| Suksesi (2024) | Duet Prabowo-Gibran (Putra Sulung Jokowi). | Terpilihnya Prabowo sebagai Presiden ke-8. |
| Pemerintahan (2025-2026) | Penegasan identitas mandiri. | Munculnya keinginan untuk keluar dari pengaruh Jokowi. |
Menjadi “murid” atau “penerus” Jokowi memberikan manfaat berupa stabilitas dan dukungan basis massa, namun di sisi lain menjadi dilema bagi Prabowo untuk membuktikan bahwa dirinya adalah nakhoda penuh atas kebijakan republik, bukan sekadar pelaksana agenda pendahulu.
Sumber: Kompas.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






