Jurnal Pelopor – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup menguat signifikan pada perdagangan Jumat (20/2/2026). Sentimen positif ini dipicu oleh keputusan bersejarah Mahkamah Agung (MA) AS yang membatalkan sebagian besar kebijakan tarif luas yang sebelumnya diterapkan oleh Presiden Donald Trump. Keputusan ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar akan potensi lonjakan inflasi dan beban biaya impor yang menghantui korporasi AS.
Pergerakan Indeks Utama (Jumat, 20 Februari 2026)
Kemenangan hukum di tingkat MA ini membawa angin segar bagi indeks acuan yang sebelumnya sempat tertekan oleh data ekonomi yang mengecewakan.
-
S&P 500: Naik 0,69% ke posisi 6.909,51.
-
Nasdaq: Bertambah 0,9% ke posisi 22.886,07 (mengakhiri tren penurunan 5 minggu).
-
Dow Jones: Menguat 230,81 poin (0,47%) ke posisi 49.625,97.
Dasar Putusan MA dan Reaksi Keras Trump
Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa kebijakan tarif Trump yang didasarkan pada Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional melampaui kewenangan kepresidenan. Mayoritas hakim berpendapat bahwa undang-undang tersebut tidak memberi wewenang kepada Presiden untuk mengenakan tarif secara sepihak.
Merespons kekalahan hukum ini, Presiden Donald Trump langsung menggelar konferensi pers di Gedung Putih dan mengumumkan langkah balasan yang lebih agresif.
“Saya akan mengambil jalan yang seharusnya saya ambil sejak awal, yang bahkan lebih kuat daripada pilihan awal kita,” tegas Trump. Ia berencana mengenakan “tarif global” baru sebesar 10% sebagai jalur alternatif.
Sektor Teknologi dan Ritel Pimpin Penguatan
Saham-saham raksasa yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor dari China menjadi pemain utama dalam reli kali ini.
-
Amazon: Melonjak lebih dari 2%. Sebagai anggota “Magnificent Seven”, Amazon sangat sensitif terhadap tarif karena sekitar 70% barangnya berasal dari China.
-
Home Depot & Five Below: Turut mencatatkan kenaikan seiring ekspektasi biaya barang yang lebih rendah bagi konsumen.
Data PDB AS: Bayang-bayang Resesi dan Inflasi
Di balik euforia bursa, data ekonomi makro AS sebenarnya menunjukkan sinyal waspada. Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV hanya tumbuh 1,4%, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 2,5%. Melambatnya pertumbuhan ini disebut akibat dampak penutupan pemerintahan (government shutdown) yang memecahkan rekor pada paruh pertama kuartal tersebut.
Sementara itu, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti masih tertahan di angka 3%, tetap berada di atas target ideal Federal Reserve sebesar 2%.
Rangkuman Performa Mingguan Bursa AS
| Indeks | Kenaikan Mingguan | Keterangan |
| Nasdaq | +1,5% | Mengakhiri koreksi 5 minggu berturut-turut. |
| S&P 500 | +1,1% | Didorong sentimen pembatalan bea masuk. |
| Dow Jones | +0,3% | Pulih dari tekanan data PDB yang pesimistis. |
Keputusan MA AS memberikan stimulus psikologis besar bagi pasar. Namun, tantangan berikutnya bagi Wall Street adalah kepastian mengenai pengembalian dana tarif (refund) yang telah dibayarkan perusahaan ke pemerintah. Jika pengadilan tingkat bawah memutuskan pemerintah harus mengembalikan dana tersebut, hal ini akan menjadi suntikan likuiditas masif yang berfungsi sebagai stimulus ekonomi bagi sektor swasta.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







