Jurnal Pelopor – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, memberikan perhatian khusus terhadap kasus kematian YBS (10), seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Bocah yang akrab disapa Bastian tersebut ditemukan meninggal dunia karena diduga bunuh diri di pohon cengkih pada akhir Januari lalu.
Dalam dialognya di rumah jabatan Bupati Ngada, Kamis (12/2/2026) malam, Menteri Arifah mengungkapkan fakta medis psikologis yang mengejutkan terkait kondisi mental korban sebelum kejadian.
Analisis Psikolog: Depresi Berat di Balik Tawa
Berdasarkan hasil analisis psikolog klinis yang mendampingi kasus ini, terungkap bahwa Bastian berada dalam kondisi depresi berat. Namun, Arifah menekankan adanya fenomena yang sering kali menipu orang tua dan guru, di mana anak-anak yang depresi masih bisa bersikap seperti anak normal lainnya.
-
Gejala Tak Kasat Mata: Bastian tetap terlihat bermain, tertawa, dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa.
-
Luput Pengawasan: Karena perilakunya yang tampak ceria, kondisi kejiwaan Bastian tidak terdeteksi oleh orang-orang terdekat, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Sehingga ini luput, mungkin dari pengawasan orang-orang sekitar termasuk di sekolah, di keluarga. Bastian mengalami depresi berat, namun masih bisa seperti anak-anak lainnya, bermain dan tertawa,” ungkap Menteri Arifah.
Ajakan Penguatan Pola Asuh dan Kepedulian Lingkungan
Menteri PPPA menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap kesehatan mental anak. Ia menyiapkan tiga langkah intervensi dan mendesak adanya kolaborasi antar-elemen masyarakat:
-
Keluarga: Penguatan pola asuh agar orang tua lebih peka terhadap perubahan kecil dalam psikologi anak.
-
Sekolah: Peningkatan pengawasan guru dan lingkungan sekolah terhadap interaksi antar-siswa.
-
Komunitas: Menciptakan lingkungan sosial yang peduli dan tidak abai terhadap kondisi mental warga, termasuk anak-anak.
Penting: Mengenali Gejala Depresi pada Anak
Tragedi Bastian menjadi peringatan bahwa depresi pada anak sering kali bermanifestasi berbeda dengan orang dewasa. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diwaspadai:
-
Perubahan perilaku yang mendadak (menjadi sangat diam atau justru sangat agresif).
-
Kehilangan minat pada hobi yang biasanya disukai.
-
Perubahan pola tidur atau nafsu makan.
-
Ungkapan-ungkapan keputusasaan meski disampaikan dalam nada bercanda.
Kontak Bantuan Kesehatan Jiwa
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala depresi atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, mohon jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Anda tidak sendirian.
-
Layanan Konseling: Hubungi puskesmas terdekat atau rumah sakit yang memiliki layanan psikiatri.
-
Komunitas Pendamping: Akses website Into the Light Indonesia di www.intothelightid.org untuk informasi layanan kesehatan jiwa yang tersedia.
Sumber: Kompas.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






