Jurnal Pelopor – Awan hitam menyelimuti industri aset digital setelah pasar kripto mengalami aksi jual massal (sell-off) pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Bitcoin, sebagai aset acuan, mencatatkan koreksi harian terdalam dalam 16 bulan terakhir dengan penurunan harga mencapai 13 persen hanya dalam waktu 24 jam.
Kejatuhan ini berdampak sistemik pada seluruh ekosistem. Valuasi pasar kripto secara keseluruhan dilaporkan terjun bebas hingga US$2 triliun, atau setara dengan Rp33,7 triliun (kurs Rp16.876). Angka ini mencerminkan hilangnya nilai yang setara dengan kapitalisasi pasar beberapa perusahaan raksasa dunia sekaligus.
Kejatuhan Dramatis Sang Raja Kripto
Kondisi “berdarah” ini merupakan puncak dari tren negatif selama tiga bulan terakhir. Pada awal Oktober 2025, Bitcoin masih bertengger gagah di kisaran US$125 ribu. Namun, saat ini harganya tersungkur hampir 50 persen ke level US$65 ribu.
Penurunan ini mengejutkan banyak pihak mengingat dalam empat bulan terakhir, Bitcoin sebenarnya dikelilingi oleh banyak sentimen positif yang seharusnya mendorong harga.
Analisis Faktor Penyebab “Pembersihan Pasar”
Analis pasar senior menyebut fenomena ini sebagai “pembersihan pasar secara agresif”. Beberapa faktor utama yang memicu efek domino ini antara lain:
-
Aksi Jual Penambang (Miners): Para penambang mulai melepas cadangan koin mereka ke pasar secara besar-besaran untuk menutupi biaya operasional yang membengkak.
-
Likuidasi Massal: Terjadi likuidasi paksa pada posisi perdagangan berjangka (futures), yang memaksa harga turun lebih jauh dalam waktu singkat.
-
Suku Bunga Tinggi: Kebijakan bank sentral yang mempertahankan suku bunga tinggi membuat investor cenderung menghindari aset berisiko (kripto) dan beralih ke aset yang lebih stabil.
-
Ketidakpastian Regulasi: Ketidakjelasan aturan global membuat investor institusional, termasuk pengelola ETF, mulai berhati-hati dan menarik modal mereka.
Dampak Bagi Investor Institusi dan Ritel
Guncangan ini tidak hanya menghantam investor ritel, tetapi juga institusi besar yang baru saja mengadopsi kripto. Narasi bahwa Bitcoin adalah “emas digital” sebagai aset lindung nilai kini sedang diuji kredibilitasnya di tengah volatilitas yang sangat ekstrem ini.
“Apa yang kita lihat hari ini adalah pembersihan pasar secara agresif,” ungkap seorang analis senior kepada CNN, menekankan bahwa pasar sedang melakukan koreksi besar untuk mencari titik keseimbangan baru.
Dengan hilangnya valuasi fantastis ini, pasar kini menanti apakah level US$65 ribu akan menjadi titik dukung (support) yang kuat atau justru menjadi pintu masuk menuju penurunan yang lebih dalam lagi.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






