Jurnal Pelopor – Krisis kemanusiaan di Sudan telah memasuki fase yang sangat mengerikan. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga pemantau pangan global yang didukung PBB, Integrated Food Security Phase Classification (IPC) pada Kamis (5/2/2026), dua wilayah tambahan di Darfur Utara, yakni Um Baru dan Kernoi, kini resmi mencapai ambang batas kelaparan akut.
Kondisi ini menambah daftar panjang wilayah yang sekarat setelah sebelumnya distrik al-Fashir dan Kadugli dinyatakan mengalami kondisi serupa. Perang saudara yang hampir memasuki tahun ketiga ini telah mengubah Sudan menjadi salah satu pusat krisis pangan terburuk di dunia.
Penyebab Utama Krisis Kemanusiaan di Sudan
Berdasarkan data dan situasi di lapangan, krisis kemanusiaan yang menghancurkan Sudan dipicu oleh akumulasi beberapa faktor krusial:
1. Perang Saudara Berkepanjangan Konflik bersenjata antara militer Sudan (SAF) dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) menjadi motor utama kehancuran. Pertempuran yang meletus sejak 2023 ini telah memicu pengungsian massal jutaan orang dan menghancurkan infrastruktur dasar negara.
2. Pengungsian Massal dan Kekerasan Etnis Wilayah Um Baru dan Kernoi menjadi titik kumpul ribuan warga yang melarikan diri dari kekejaman di al-Fashir. Penumpukan pengungsi di wilayah perbatasan Chad ini tidak dibarengi dengan pasokan logistik yang memadai, sehingga memicu lonjakan angka malnutrisi.
3. Terputusnya Jalur Distribusi Pangan Pengepungan kota-kota strategis oleh kelompok bersenjata membuat bantuan kemanusiaan tidak bisa masuk. Konflik di wilayah Kordofan Raya juga secara langsung melumpuhkan produksi pangan lokal karena petani tidak bisa melaut atau bercocok tanam di tengah desingan peluru.
4. Krisis Pendanaan Global Lembaga bantuan internasional seperti CARE International mengeluhkan adanya pemotongan dana dari donor global. Hal ini membuat operasional penyelamatan nyawa di lapangan menjadi terhambat.
“Kelaparan benar-benar telah mengakar di beberapa wilayah tempat kami bekerja. Tambahan pendanaan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pasokan pangan menjelang musim hujan dan musim paceklik,” ungkap Penasihat Advokasi Kemanusiaan CARE, Elizabeth Courtney.
Kondisi Malnutrisi yang Mengkhawatirkan
Laporan IPC menunjukkan fakta yang menyayat hati: tingkat kekurangan gizi akut pada anak-anak di bawah usia lima tahun di Um Baru telah mencapai hampir dua kali lipat dari ambang batas kelaparan normal. Di Kernoi, akses kesehatan sangat lumpuh, di mana hanya 25 persen anak dengan Malnutrisi Akut Parah yang mendapatkan perawatan medis.
Secara nasional, angka kasus malnutrisi di Sudan diperkirakan melonjak menjadi 4,2 juta kasus pada tahun 2026, meningkat tajam dari 3,7 juta kasus pada tahun sebelumnya.
Tanpa adanya gencatan senjata dan pembukaan jalur kemanusiaan secara besar-besaran, jutaan warga Sudan kini berada dalam hitungan mundur menuju bencana kelaparan yang lebih luas saat stok pangan hasil panen sebelumnya benar-benar habis.
Sumber: Liputan6
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







