• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home Nasional

Proyek PLTSa 33 Kota, Pemerintah Kejar Solusi Krisis Sampah

Pemerintah percepat proyek PLTSa di 33 kota sebagai solusi krisis sampah nasional sekaligus penguatan energi terbarukan Indonesia.

musa by musa
27/01/2026
in Jurnal
0
Proyek PLTSa 33 Kota, Pemerintah Kejar Solusi Krisis Sampah
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor  — Pemerintah terus mendorong proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Waste to Energy (WTE) di 33 kota besar di Indonesia sebagai upaya menjawab krisis sampah yang kian mendesak. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, proyek ini bukan sekadar ambisi energi terbarukan, melainkan langkah strategis untuk mengatasi tumpukan sampah masif yang sudah berada di titik darurat.

Sampah Menumpuk, Kota Terancam

Hanif menjelaskan, banyak daerah di Indonesia saat ini menghadapi persoalan sampah yang sangat serius. Timbulan sampah harian di sejumlah kota telah melampaui 1.000 ton per hari. Kondisi ini tak hanya membebani tempat pembuangan akhir, tetapi juga menimbulkan ancaman kesehatan, pencemaran lingkungan, hingga konflik sosial.

Karena itu, pemerintah menetapkan kriteria ketat dalam penerapan proyek WTE. Hanya kota atau kawasan aglomerasi dengan volume sampah besar yang diarahkan menggunakan teknologi ini. Menurut Hanif, WTE bukan solusi untuk semua daerah, melainkan jalan keluar terakhir bagi wilayah dengan persoalan sampah yang sudah sulit ditangani secara konvensional.

Berbasis Regulasi dan Target Nasional

Proyek PLTSa ini mengacu pada amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Regulasi tersebut menugaskan pemerintah pusat dan daerah untuk menyelesaikan persoalan sampah di 33 kabupaten/kota prioritas. Fokus utamanya adalah wilayah dengan timbulan sampah tinggi atau berada di kawasan perkotaan padat penduduk.

Dengan payung hukum tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa penanganan sampah tidak lagi bersifat reaktif, tetapi terencana dan terukur. WTE diposisikan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu, bukan solusi tunggal yang berdiri sendiri.

Teknologi Mahal, Tapi Dianggap Perlu

Hanif secara terbuka mengakui bahwa teknologi WTE merupakan metode pengolahan sampah paling mahal saat ini. Untuk membangun satu unit PLTSa, dibutuhkan belanja modal hingga sekitar Rp 3 triliun. Sementara itu, biaya operasionalnya bisa mencapai Rp 1 triliun.

Karena mahalnya biaya tersebut, pemerintah tidak mendorong seluruh daerah mengikuti skema yang sama. WTE hanya diterapkan di wilayah dengan skala masalah yang sangat besar. Bagi daerah dengan timbulan sampah kecil, pendekatan pengurangan, pemilahan, dan daur ulang tetap menjadi prioritas.

Peran Danantara dan Target 2027

Saat ini, pemerintah telah mengidentifikasi 10 kawasan aglomerasi dari 26 kabupaten/kota yang memiliki potensi sampah besar untuk dikelola melalui WTE. Total sampah dari kawasan ini diperkirakan mencapai 10.000 ton per hari.

Seluruh penanganan proyek tersebut ditangani oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Pemerintah menargetkan pembangunan 10 unit WTE rampung pada 2027, dengan pendanaan investasi yang dinyatakan telah siap.

Beberapa aglomerasi bahkan sudah masuk tahap lelang, seperti Denpasar Raya, Yogyakarta Raya, Bogor Raya, dan Kota Bekasi.

Jakarta dan Bandung Masih Tertinggal

Ironisnya, dua kawasan dengan potensi sampah terbesar justru belum siap menjalankan proyek ini. Daerah Khusus Jakarta menghasilkan sekitar 8.000 ton sampah per hari, sementara Bandung Raya mencapai 5.000 ton. Namun, kesiapan infrastruktur dan tata kelola di dua wilayah tersebut masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Pemerintah berharap, ke depan, semua pihak dapat melihat WTE secara lebih realistis: mahal, kompleks, tetapi dalam kondisi tertentu, menjadi pilihan yang sulit dihindari. Lalu, apakah proyek ini benar-benar akan menjadi solusi jangka panjang atau hanya penyangga sementara krisis sampah nasional?

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #PLTSa #WasteToEnergy #KrisisSampah #EnergiTerbarukan #LingkunganHidup #PengelolaanSampah #IndonesiaHijau
Previous Post

Immanuel Ebenezer Siap Dihukum Mati Jika Terbukti Memeras

Next Post

Purbaya Tak Gentar Isu “Di-Noel-kan”: Saya Fokus Kerja

musa

musa

Related Posts

sudan
World

Sudan Sekarat! Kelaparan Akut Kini Meluas ke Darfur Utara.

07/02/2026
china
World

AS & China Bersatu Lawan 35 Negara di KTT Spanyol.

07/02/2026
pandji
Nasional

10 Jam Diperiksa Polisi, Begini Kata Pandji Pragiwaksono

07/02/2026
msf
World

Rumah Sakit MSF Dibom, Perang Sudan Selatan Kian Brutal

06/02/2026
genosida
Nasional

Pakai KUHP Baru, Genosida Israel Dilaporkan ke Kejagung

06/02/2026
hector souto
Olahraga

Tak Mau Disanjung, Hector Souto Serahkan Panggung ke Pemain

06/02/2026
Next Post
purbaya

Purbaya Tak Gentar Isu “Di-Noel-kan”: Saya Fokus Kerja

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.