• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home Nasional

Noe Letto: Kritik Rakyat Itu Data, Bukan Ancaman

Noe Letto tegaskan kritik publik bukan ancaman, melainkan data penting bagi pemerintah untuk memahami kegelisahan dan harapan rakyat

musa by musa
25/01/2026
in Jurnal
0
letto
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor — Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto, menegaskan bahwa kritik dari masyarakat tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah. Sebaliknya, kritik justru harus diperlakukan sebagai data penting yang mencerminkan kegelisahan dan harapan rakyat terhadap jalannya pemerintahan.

Pernyataan tersebut disampaikan Noe dalam kanal YouTube pribadinya, Sabrang MDP Official. Ia menyoroti kecenderungan pemerintah yang kerap bersikap defensif, bahkan emosional, saat menerima kritik publik, terutama ketika kritik itu disampaikan dengan bahasa yang keras.

Kritik Adalah Data, Bukan Permusuhan

Menurut Noe, kemarahan rakyat bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara atau pemerintah. Ia menilai, kemarahan justru menandakan adanya persoalan yang perlu diperhatikan secara serius.

“Kritik itu bukan ancaman. Kritik itu data. Rakyat yang marah itu bukan musuh,” ujar Noe. Ia menekankan bahwa substansi kritik perlu “dibersihkan dan didestilasi”, agar pemerintah dapat menangkap inti persoalan tanpa terjebak pada gaya bahasa penyampaiannya.

Noe juga mengingatkan bahwa tidak semua warga memiliki kemampuan menyampaikan kritik secara sistematis, logis, dan santun. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk memahami kritik berada di pundak penguasa, bukan semata-mata pada rakyat.

Masalah Utama: Respons Pemerintah yang Emosional

Lebih lanjut, Noe mengkritik pola respons pemerintah yang dinilainya berulang dan tidak produktif. Mulai dari diam dan berharap isu mereda, menyalahkan pengkritik, hingga melontarkan klarifikasi panjang yang justru tidak menjawab substansi masalah.

Ia menyebut, pendekatan seperti ini hanya memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat. Alih-alih meredam ketegangan, sikap defensif justru berpotensi memicu ketidakpercayaan publik yang lebih dalam.

Noe menilai, pemerintah seharusnya memiliki kapasitas public relation yang matang dalam menghadapi kritik, terutama di tengah situasi krisis atau tekanan publik yang tinggi.

Perlu Kerangka Resmi Menangani Kritik Publik

Dalam pandangan Noe, salah satu kelemahan mendasar pemerintahan adalah absennya kerangka kerja atau framework yang jelas dalam merespons kritik masyarakat. Ia mengusulkan standar yang sederhana namun krusial: mengakui adanya masalah, merespons secara jujur dan transparan, serta menunjukkan komitmen yang bisa dipantau publik.

Baginya, pejabat publik idealnya mampu bersikap dingin, tidak reaktif, dan tidak lari dari persoalan. Standar ini, menurut Noe, seharusnya menjadi budaya, bukan sekadar pengecualian.

Eksperimen Masuk Sistem, Siap Ambil Risiko

Noe mengungkapkan bahwa penerimaannya terhadap posisi Tenaga Ahli di DPN RI merupakan bentuk “eksperimen” pribadi. Ia ingin mencoba membangun standar interaksi yang lebih sehat antara pejabat dan masyarakat dari dalam sistem.

Namun, Noe menegaskan komitmennya tidak bersifat mutlak. Ia menyatakan siap mundur apabila perannya hanya menjadi simbol tanpa ruang untuk menerapkan gagasan dan rekomendasi secara nyata.

“Kalau ternyata lama di sana ngasih rekomendasi dan enggak kepakai juga, ya tinggal keluar,” ucapnya.

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #NoeLetto #KritikPublik #Pemerintahan #Demokrasi #SuaraRakyat #DewanPertahanan #BeritaNasional
Previous Post

Usai Periksa Dito, KPK Makin Yakin Jerat Yaqut

Next Post

Rusia Uji Diplomasi dengan Serangan Besar

musa

musa

Related Posts

yaqut
Nasional

Ikuti Yaqut, Immanuel Ebenezer Minta Tahanan Rumah ke KPK!

24/03/2026
jepang
Jurnal

Ogah Minta Bantuan Iran, Jepang Hadapi Ketidakpastian Hormuz

24/03/2026
baggott
Olahraga

Kedatangan Baggott Jadi Sinyal Kuat Timnas Siap Tempur!

24/03/2026
veda
Olahraga

Dari Track Walk ke Podium, Veda Buktikan Keyakinannya!

24/03/2026
andrie yunus
Nasional

Kasus Andrie Yunus Picu Desakan Revisi UU Peradilan Militer

19/03/2026
bmkg
Nasional

Cuaca Jakarta Terasa Makin Panas, Ini Penjelasan BMKG

19/03/2026
Next Post
rusia

Rusia Uji Diplomasi dengan Serangan Besar

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.