Jurnal Pelopor — Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Greenland memantik ketegangan diplomatik baru antara Washington dan Kopenhagen. Meski dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia, Denmark menunjukkan sikap tegas. Pemerintah dan parlemen negara Nordik itu menegaskan siap mempertahankan Greenland, wilayah otonom yang secara historis dan hukum berada di bawah kedaulatan Denmark.
Ketegangan Berawal dari Greenland
Situasi memanas ketika Amerika Serikat mengirimkan sejumlah pesawat militer North American Aerospace Defense Command (NORAD) ke Greenland. Meski disebut sebagai agenda rutin, langkah ini memicu kekhawatiran serius di Denmark. Anggota Parlemen Denmark, Rasmus Jarlov, bahkan menyatakan bahwa jika AS melakukan invasi militer, maka hal tersebut berarti perang.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Denmark memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi wilayahnya, termasuk Greenland, serta puluhan ribu penduduknya yang secara terbuka menolak berada di bawah kekuasaan Amerika Serikat.
Denmark: Damai, Tapi Bukan Tanpa Sejarah Perang
Di mata dunia, Denmark sering dipersepsikan sebagai negara kecil, tenang, dan damai. Namun, sejarah mencatat bahwa negara ini tidak asing dengan konflik bersenjata. Denmark pernah terlibat dalam sejumlah peperangan besar, baik sebagai pihak yang diserang maupun sebagai bagian dari aliansi militer.
Pada awal abad ke-19, Denmark diserang Inggris dalam Perang Kopenhagen tahun 1801 dan 1807. Saat itu, Inggris khawatir armada laut Denmark jatuh ke tangan Prancis di bawah Napoleon Bonaparte. Demi mencegah skenario tersebut, Inggris melancarkan serangan langsung ke Kopenhagen untuk merebut atau menghancurkan armada Denmark.
Denmark melawan dan kemudian berpihak pada Prancis dan Norwegia dalam konflik yang lebih luas di Eropa. Perang ini menjadi salah satu babak penting dalam sejarah militer Denmark.
Pengalaman Pahit di Perang Dunia II
Denmark kembali menghadapi ujian besar saat Perang Dunia II. Pada 9 April 1940, pasukan Jerman Nazi menginvasi Denmark. Pertempuran berlangsung singkat namun nyata. Salah satu perlawanan tercatat terjadi di Lundtoftbjerg, ketika pasukan anti-tank Denmark berusaha menahan laju kendaraan lapis baja Jerman.
Meski akhirnya Denmark menyerah, perlawanan tersebut menunjukkan bahwa negara kecil ini tidak menyerahkan kedaulatannya tanpa upaya. Dalam invasi itu, Jerman kehilangan sejumlah kendaraan militer, sementara di pihak Denmark terdapat korban jiwa dan penangkapan tentara.
Dari Medan Perang ke NATO
Pasca Perang Dunia II, Denmark mengambil pelajaran penting dari sejarahnya. Pada 1949, Denmark menjadi salah satu pendiri Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Keanggotaan ini menandai komitmen Denmark terhadap pertahanan kolektif dan keamanan internasional.
Sebagai anggota NATO, Denmark turut terlibat dalam berbagai operasi militer internasional, mulai dari Bosnia-Herzegovina, Afghanistan, Irak, hingga Libya. Keterlibatan ini menegaskan bahwa Denmark bukan negara pasif dalam urusan pertahanan global.
Ancaman Trump dan Sikap Tegas Denmark
Dengan latar belakang sejarah tersebut, sikap Denmark menghadapi ancaman Trump menjadi lebih mudah dipahami. Negara ini mungkin kecil secara geografis, tetapi memiliki tradisi mempertahankan kedaulatan dan komitmen kuat terhadap hukum internasional.
Bagi Denmark, Greenland bukan sekadar wilayah strategis, melainkan bagian dari identitas nasional dan tanggung jawab moral terhadap warganya. Ancaman militer, siapa pun pelakunya, dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip tersebut.
Di tengah dinamika geopolitik global, sikap Denmark mengirim pesan jelas: perdamaian dijunjung tinggi, tetapi kedaulatan tidak untuk ditawar.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







