Jurnal Pelopor — Di tengah tuntutan kerja yang kian padat dan tekanan produktivitas global, isu keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi kembali menjadi sorotan. Sejumlah negara, khususnya di Eropa, terbukti serius melindungi hak pekerja untuk beristirahat. Data terbaru tahun 2025 dari World Population Review menunjukkan bahwa Eropa masih menjadi kawasan paling “ramah libur” di dunia, dengan rata-rata jatah cuti berbayar mencapai 33 hari per tahun.
Eropa dan Filosofi Kerja yang Lebih Manusiawi
Cuti berbayar di Eropa bukan sekadar kebijakan administratif. Lebih dari itu, ia lahir dari kesadaran bahwa manusia bukan mesin. Libur dianggap sebagai kebutuhan dasar untuk menjaga kesehatan mental, produktivitas jangka panjang, serta keharmonisan keluarga. Karena itu, sebagian besar negara Eropa mewajibkan perusahaan memberikan cuti tahunan yang cukup panjang, ditambah hari libur nasional yang tidak boleh dipangkas.
Namun, di balik angka rata-rata yang impresif, terdapat perbedaan mencolok antarnegara. Kebijakan cuti sangat bergantung pada regulasi nasional, sejarah ketenagakerjaan, dan budaya kerja masing-masing wilayah.
Andorra dan Negara Eropa Timur Mendominasi
Di posisi teratas, Andorra muncul sebagai negara paling dermawan soal cuti. Negara kecil di perbatasan Prancis dan Spanyol ini memberikan total 45 hari cuti berbayar dalam setahun. Angka tersebut berasal dari kombinasi cuti tahunan yang panjang serta hari libur nasional yang cukup banyak.
Tak jauh di belakang, Rusia memberikan 42,5 hari cuti, disusul Prancis dan Luksemburg yang masing-masing menetapkan 42 hari. Menariknya, sejumlah negara di Eropa Timur dan Tengah cenderung lebih longgar dalam urusan libur, bahkan melampaui standar Eropa Barat.
Negara Ekonomi Besar Justru di Papan Tengah
Di sisi lain, negara-negara dengan ekonomi kuat justru tidak selalu unggul dalam jumlah cuti. Jerman, sebagai motor ekonomi Eropa, memberikan 30 hari cuti berbayar, berada tepat di sekitar rata-rata kawasan. Inggris Raya sedikit di bawahnya dengan 29 hari, sementara Swiss hanya mencatatkan 27 hari cuti.
Angka tersebut dinilai relatif rendah jika dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Meski demikian, negara-negara ini kerap menyeimbangkannya dengan sistem kerja yang efisien, jam kerja teratur, serta perlindungan tenaga kerja yang ketat.
San Marino Jadi yang Paling Minim
Di ujung bawah daftar, San Marino tercatat sebagai negara dengan kebijakan cuti paling ketat di Eropa. Negara ini hanya mewajibkan 10 hari cuti berbayar per tahun. Angka tersebut terpaut jauh dari tetangganya, Italia, yang memberikan 32 hari cuti. Beberapa wilayah lain seperti Jersey, Moldova, dan Montenegro juga berada di kelompok bawah dengan jatah libur sekitar 19 hingga 21 hari.
Lebih dari Sekadar Angka
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak bisa disamaratakan. Lokasi geografis, tradisi hukum, hingga filosofi negara terhadap kesejahteraan pekerja sangat menentukan. Namun satu hal jelas, cuti berbayar bukan sekadar soal libur panjang, melainkan tentang bagaimana negara memandang martabat manusia di dunia kerja.
Di tengah tren burnout global, data ini menjadi pengingat penting: bekerja keras memang perlu, tetapi beristirahat dengan layak jauh lebih manusiawi. Jadi, jika suatu hari Anda iri melihat kalender libur negara lain, mungkin bukan soal malas bekerja, melainkan soal hak untuk hidup lebih seimbang.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







