Jurnal Pelopor — Kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan kerja kembali menyeret nama perusahaan teknologi raksasa dunia. Seorang karyawan senior Google mengklaim dirinya justru diberhentikan setelah melaporkan tindakan kekerasan seksual yang dilakukan seorang manajer kepada klien dan rekan kerja. Klaim tersebut kini menjadi pokok perkara dalam sidang pengadilan ketenagakerjaan di London dan memicu sorotan luas terhadap komitmen perlindungan whistleblower di industri teknologi global.
Pengakuan Whistleblower di Pengadilan
Karyawan tersebut, Victoria Woodall, menyampaikan kesaksiannya di hadapan London Central Employment Tribunal. Ia mengaku menjadi korban pembalasan setelah melaporkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang manajer Google UK. Menurut Woodall, laporan tersebut berujung pada pemecatan sang manajer, namun secara bersamaan justru memperburuk posisinya di perusahaan.
Melansir laporan BBC, Woodall menegaskan bahwa sejak melakukan pelaporan, ia mengalami serangkaian tindakan yang melemahkan peran dan kariernya. Google, di sisi lain, membantah tudingan pembalasan dan menyebut klaim Woodall sebagai bentuk kesalahpahaman serta interpretasi berlebihan terhadap dinamika bisnis internal.
Hasil Investigasi Internal Google
Dokumen pengadilan mengungkap bahwa investigasi internal Google UK menemukan bukti perilaku tidak pantas sang manajer. Ia dinyatakan telah menyentuh dua rekan kerja perempuan tanpa persetujuan, sebuah tindakan yang dikategorikan sebagai pelecehan seksual dan pelanggaran berat kebijakan perusahaan.
Selain itu, investigasi juga mencatat adanya komentar seksual eksplisit kepada klien perempuan selama acara bisnis. Klien tersebut menggambarkan perilaku sang manajer sebagai “menjijikkan” dan tidak pantas dilakukan dalam konteks profesional.
Tuduhan Budaya “Boys’ Club”
Dalam gugatannya, Woodall juga menuding adanya budaya kerja “boys’ club” di Google. Ia menyebut perusahaan pernah mendanai acara makan siang eksklusif pria hingga Desember 2022. Meski demikian, Google membantah keberadaan budaya tersebut dan menegaskan bahwa acara tersebut dihentikan karena tidak lagi sejalan dengan kebijakan internal perusahaan.
Google menyatakan tidak menemukan bukti sistemik yang mendukung klaim budaya diskriminatif berbasis gender dalam organisasi mereka.
Dugaan Pembalasan dan Pelemahan Posisi
Woodall mengklaim bahwa setelah melapor, ia dipaksa menukar akun klien yang sebelumnya sukses dengan akun bermasalah. Langkah itu ia sebut sebagai “poisoned chalice” karena membuatnya rentan terhadap kebijakan redundansi. Selain itu, ia juga mengaku diturunkan perannya dalam proyek internal besar serta mengalami penurunan penilaian kinerja.
Menurut Woodall, seluruh tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menyingkirkannya dari perusahaan. Tuduhan ini dibantah oleh atasannya, Matt Bush, yang menyatakan bahwa rotasi akun klien merupakan praktik standar dan bukan bentuk hukuman.
Google Bantah Pemecatan Terkait Laporan
Google menegaskan bahwa Woodall tidak diberhentikan karena laporannya. Perusahaan menyebut posisinya termasuk salah satu dari 26 jabatan yang dihapus dalam proses reorganisasi. Google juga menyatakan bahwa manajemen justru mendukung pengungkapan kasus tersebut dan mengakui laporan Woodall sebagai tindakan whistleblowing yang sah.
Saat ini, Woodall masih tercatat sebagai karyawan dan menerima pembayaran sakit jangka panjang akibat stres kerja. Putusan pengadilan atas perkara ini dijadwalkan keluar dalam beberapa pekan ke depan.
Kasus ini pun menjadi ujian serius bagi perusahaan teknologi global dalam membuktikan komitmen terhadap perlindungan pelapor pelanggaran. Pertanyaannya, sejauh mana korporasi besar benar-benar melindungi mereka yang berani bersuara?
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







