• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home News Politics

Alarm Bahaya, Pilkada Lewat DPRD Kembali Menguat

Wacana Pilkada lewat DPRD kembali menguat, didukung mayoritas fraksi DPR, memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan demokrasi.

musa by musa
08/01/2026
in Politics
0
pilkada
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor  –  Rencana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali menguat dan memicu alarm serius bagi demokrasi Indonesia. Mayoritas partai politik di DPR bersama pemerintah kini berada dalam satu barisan mendukung usulan Presiden RI Prabowo Subianto, membuka jalan kembalinya mekanisme Pilkada tidak langsung yang pernah ditinggalkan lebih dari satu dekade lalu.

Mayoritas Fraksi Sepakat, Arah Politik Mengunci

Peta politik di DPR menunjukkan enam fraksi menyatakan dukungan tegas terhadap Pilkada lewat DPRD. Mereka adalah Gerindra, Golkar, PKB, NasDem, PAN, dan Demokrat. Sikap Demokrat menjadi sorotan karena partai ini baru saja berputar arah setelah sebelumnya menolak gagasan tersebut.

PKS memilih sikap setengah jalan. Partai ini mengusulkan Pilkada lewat DPRD hanya untuk tingkat kabupaten, sementara pemilihan gubernur dan wali kota tetap dilakukan secara langsung. Di luar barisan koalisi pemerintah, hanya PDIP yang secara konsisten menyatakan penolakan.

Konstelasi ini membuat peluang perubahan sistem Pilkada semakin terbuka lebar, sekaligus memicu kekhawatiran luas di kalangan akademisi dan pegiat demokrasi.

Demokrasi Elite Mengintai Daerah

Dosen Hukum Tata Negara Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah atau Castro, menilai wacana Pilkada lewat DPRD sebagai sinyal bahaya bagi masa depan demokrasi lokal. Menurutnya, mekanisme tersebut akan menggeser demokrasi rakyat menjadi demokrasi elite.

Ia menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah akan ditentukan oleh segelintir orang dalam proses tertutup dan minim transparansi. Kondisi ini dinilai rawan politik transaksional, praktik kekerabatan, hingga penguatan oligarki lokal.

Lebih jauh, Castro mengingatkan bahwa rencana ini bertabrakan dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024, yang menegaskan Pilkada sebagai bagian dari pemilu langsung di daerah.

Legitimasi Dipertaruhkan, Hak Rakyat Tergerus

Kritik juga datang dari Staf Pengajar Hukum Tata Negara UI, Titi Anggraini. Ia menolak dalih efisiensi dan pencegahan korupsi yang kerap digunakan untuk membenarkan Pilkada lewat DPRD.

Menurut Titi, akar persoalan bukan pada hak pilih rakyat, melainkan kegagalan partai politik dan lemahnya penegakan hukum. Ia menilai negara keliru jika justru memangkas hak politik warga, alih-alih membenahi tata kelola dan transparansi pendanaan politik.

Ia juga menyoroti rendahnya kepercayaan publik terhadap DPRD. Dalam kondisi tersebut, legitimasi kepala daerah hasil pemilihan DPRD berpotensi rapuh sejak awal.

Demokrat Berbalik Arah, Identitas Dipertanyakan

Perubahan sikap Partai Demokrat menjadi bab penting dalam dinamika ini. Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai langkah Demokrat lebih bersifat strategis ketimbang ideologis.

Ia menyebut keputusan itu berpotensi berbenturan dengan warisan politik Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, yang pada 2014 justru membatalkan Pilkada lewat DPRD. Menurut Arifki, Demokrat memilih aman secara jangka pendek, tetapi harus membayar mahal secara simbolik.

Ujian Serius Reformasi Politik

Wacana Pilkada lewat DPRD kini tak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari rencana besar perubahan sistem politik melalui RUU Omnibus Law Politik. Mulai dari desain pemilu hingga pendanaan partai, semua tengah dipertaruhkan.

Pertanyaannya kini semakin tajam: apakah negara akan memperkuat demokrasi lokal, atau justru menariknya kembali ke ruang elite kekuasaan? Jawaban atas wacana ini akan menentukan arah demokrasi Indonesia dalam satu dekade ke depan.

Sumber: CNN Indonesia

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #Pilkada #Demokrasi #DPR #PolitikNasional #PilkadaDPRD #Prabowo #AlarmDemokrasi
Previous Post

Mendadak Banget, Darren Fletcher Jadi Manajer Interim MU

Next Post

Warga Diteror? Polisi Janji Bergerak Cepat Tangani Laporan

musa

musa

Related Posts

pdi
Politics

Kaesang Incar Jateng, PDI-P Klaim Tetap Menang

10/01/2026
nadiem
Politics

Prajurit TNI Hadir di Sidang Nadiem, Jaksa: Demi Keamanan

06/01/2026
pdip
Politics

Megawati Lantik PDIP Jateng, Putri Puan Masuk Jajaran Inti

29/12/2025
nikel
Politics

Penghentian Kasus Nikel Rp2,7 T Diprotes Eks Pimpinan KPK

29/12/2025
jaksa
Politics

Jaksa Bongkar Manuver Nadiem di Kasus Chromebook

17/12/2025
gerindra
Politics

Gerindra Jadi Partai Paling Terbuka Versi KIP 2025

16/12/2025
Next Post
polisi

Warga Diteror? Polisi Janji Bergerak Cepat Tangani Laporan

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.