Jurnal Pelopor – Ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin kembali memanas. Presiden Kolombia Gustavo Petro secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk mengangkat senjata apabila Amerika Serikat melancarkan agresi militer terhadap negaranya. Pernyataan keras tersebut disampaikan Petro menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyinggung kemungkinan tindakan keras terhadap Kolombia.
Pernyataan itu disampaikan Petro melalui unggahan di media sosial X pada Senin (5/1/2026). Ia menegaskan bahwa langkah tersebut diambil semata-mata demi mempertahankan kedaulatan dan kehormatan tanah air.
Petro: Demi Tanah Air, Saya Siap Melanggar Sumpah
Dalam unggahannya, Petro mengingatkan publik bahwa dirinya pernah bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi sejak menandatangani Pakta Perdamaian pada 1989. Namun, ia menilai kondisi saat ini memaksanya mengambil sikap ekstrem.
“Saya pernah bersumpah tak akan menyentuh senjata lagi sejak Pakta Perdamaian 1989. Namun demi tanah air, saya akan mengangkat senjata kembali,” tulis Petro.
Pernyataan ini menjadi sorotan dunia karena datang dari seorang kepala negara yang selama ini dikenal vokal memperjuangkan perdamaian dan reformasi sosial di Kolombia.
Latar Belakang Masa Lalu Petro sebagai Gerilyawan
Gustavo Petro bukan sosok asing dengan dunia perlawanan bersenjata. Pada usia 17 tahun, ia pernah bergabung dengan kelompok gerilyawan kiri M-19 (Movimiento 19 de Abril). Kelompok ini aktif pada periode 1970 hingga 1990 dan dikenal sebagai gerakan yang diisi oleh kalangan pelajar serta intelektual berhaluan Marxis.
M-19 tercatat pernah melakukan berbagai aksi besar, mulai dari serangan terhadap pangkalan militer, pencurian senjata, hingga aksi simbolik seperti mencuri pedang pahlawan kemerdekaan Simon Bolivar. Kelompok ini juga terlibat dalam penyerbuan Istana Kehakiman Kolombia pada 1985 yang menewaskan banyak korban.
Meski akhirnya membubarkan diri dan menandatangani perjanjian damai, masa lalu tersebut kini kembali menjadi sorotan setelah pernyataan keras Petro terhadap AS.
Bantah Tuduhan Trump dan Tegaskan Legitimasi
Dalam pernyataan yang sama, Petro juga membantah tuduhan Donald Trump yang menyebutnya sebagai pengedar narkoba dan pemimpin korup. Ia menegaskan dirinya adalah presiden sah yang dipilih rakyat Kolombia melalui Pemilu 2022.
“Saya bukan pemimpin tidak sah, juga bukan pengedar narkoba. Satu-satunya aset yang saya punya hanya rumah keluarga yang masih saya cicil dari gaji,” tegas Petro.
Ia menilai tuduhan tersebut sebagai upaya delegitimasi terhadap kepemimpinan Kolombia yang berhaluan kiri.
Perintah Tegas kepada Militer dan Aparat Keamanan
Petro turut menginstruksikan seluruh pasukan keamanan Kolombia untuk bersatu membela negara. Ia bahkan meminta aparat yang dinilai lebih setia kepada kepentingan asing untuk mundur dari institusi.
“Setiap komandan pasukan keamanan yang lebih menyukai bendera AS ketimbang Kolombia harus segera mundur,” ujarnya.
Menurut Petro, konstitusi Kolombia dengan jelas memerintahkan aparat keamanan untuk menjaga kedaulatan rakyat, bukan kepentingan negara asing.
Dampak Regional dan Sorotan Internasional
Pernyataan Petro muncul di tengah kecaman global terhadap serangan militer AS ke Venezuela yang menewaskan puluhan warga sipil. Banyak pihak menilai ancaman Trump terhadap Kolombia berpotensi memperluas konflik di Amerika Latin.
Komunitas internasional kini menyoroti langkah Petro sebagai sinyal serius bahwa ketegangan kawasan bisa berubah menjadi konflik terbuka jika diplomasi gagal. Situasi ini sekaligus menjadi ujian besar bagi stabilitas regional dan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara Amerika Selatan.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







