Jurnal Pelopor – Serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela berbuntut panjang pada sektor energi negara Amerika Latin tersebut. Ekspor minyak Venezuela dilaporkan lumpuh setelah Washington memberlakukan blokade ketat terhadap kapal-kapal tanker yang dikenai sanksi. Situasi ini membuat aktivitas pengapalan minyak mentah Venezuela praktis berhenti dalam waktu singkat.
Laporan Reuters pada Minggu (4/1/2026) menyebutkan bahwa ekspor minyak Venezuela merosot ke level minimum. Sejumlah sumber di pelabuhan menyatakan para kapten pelabuhan belum menerima satu pun permintaan izin keberangkatan bagi kapal tanker bermuatan minyak. Kondisi ini menandai gangguan serius terhadap tulang punggung ekonomi Venezuela yang selama ini sangat bergantung pada sektor migas.
Kapal Tanker Tak Bisa Berlayar
Sejumlah kapal tanker yang sebelumnya dijadwalkan mengangkut minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat dan kawasan Asia dilaporkan belum berlayar. Data layanan pelacakan TankerTrackers menunjukkan tidak ada aktivitas pemuatan di pelabuhan minyak utama Venezuela, Jose, pada Sabtu (3/1/2026).
Bahkan, beberapa kapal tanker yang semestinya memuat bahan bakar dilaporkan meninggalkan perairan Venezuela dalam kondisi kosong. Situasi ini memperjelas bahwa ekspor tidak hanya tertunda, tetapi benar-benar terhenti akibat tekanan geopolitik dan sanksi militer.
Wall Street Journal juga melaporkan sebuah kapal tanker yang semula menuju Venezuela terpaksa mengubah haluan ke Nigeria. Selain itu, empat kapal tanker lainnya memilih menghentikan pelayaran setelah serangan militer AS dilancarkan.
Ancaman Penurunan Produksi Minyak
Penghentian ekspor ini diperkirakan akan berdampak langsung pada produksi minyak Venezuela. Reuters mengutip sejumlah sumber internal yang menyebutkan bahwa tanpa jalur ekspor, pemerintah Venezuela kemungkinan terpaksa memangkas produksi minyak mentah.
Langkah tersebut akan memperburuk kondisi ekonomi negara yang selama bertahun-tahun tertekan oleh sanksi internasional, inflasi tinggi, dan krisis mata uang. Minyak mentah selama ini menjadi sumber utama pendapatan negara dan devisa bagi pemerintah Venezuela.
Jika situasi ini berlarut-larut, para analis memperkirakan Venezuela akan kesulitan menjaga operasional ladang minyak, termasuk pemeliharaan infrastruktur dan distribusi bahan bakar domestik.
Serangan Militer AS Picu Eskalasi
Krisis ini bermula dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengonfirmasi telah melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela. Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dikabarkan ditangkap dan dibawa keluar dari negara tersebut.
Sejumlah media internasional melaporkan adanya ledakan di Caracas dan menyebut operasi itu melibatkan unit elite militer AS, Delta Force. Serangan ini langsung memicu kecaman dan kekhawatiran global terkait eskalasi konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
Dampak Global Mulai Terasa
Lumpuhnya ekspor minyak Venezuela berpotensi berdampak pada pasar energi global, terutama jika konflik berlanjut. Gangguan pasokan dari salah satu negara pemilik cadangan minyak terbesar dunia dapat memicu volatilitas harga minyak internasional.
Situasi ini juga menambah daftar ketegangan geopolitik global di awal 2026, ketika konflik bersenjata kembali memengaruhi rantai pasok energi dunia.
Sumber: Liputan6
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







