Jurnal Pelopor – Wali Kota Solo, Jawa Tengah, Respati Ardi, menyoroti menjamurnya coffee shop sebagai salah satu faktor yang turut menyumbang tekanan inflasi di Kota Solo. Pernyataan ini disampaikan Respati di tengah upaya pemerintah daerah menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, terutama di awal tahun 2026.
Menurut Respati, selain komoditas pangan utama seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai, sektor nonpangan justru mulai menunjukkan kontribusi signifikan terhadap inflasi daerah. Salah satunya berasal dari industri kopi yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Konsumsi Kopi Naik Seiring Ledakan Coffee Shop
Respati menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi kopi tidak bisa dilepaskan dari perubahan gaya hidup masyarakat. Coffee shop kini bukan hanya tempat minum kopi, tetapi juga menjadi ruang berkumpul, bekerja, hingga beraktivitas sosial, terutama bagi generasi muda.
Lonjakan jumlah coffee shop ini berdampak langsung pada permintaan biji kopi. Ketika permintaan meningkat tajam dalam waktu relatif singkat, harga bahan baku pun ikut terkerek naik. Kondisi inilah yang menurut Respati memicu tekanan inflasi yang tidak sepenuhnya wajar.
Ia menyebut adanya anomali harga biji kopi di pasaran, yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi produksi. Kenaikan harga tersebut akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui harga minuman kopi di kafe dan restoran.
Lebih dari 170 Coffee Shop Baru di Solo
Respati mengungkapkan bahwa saat ini terdapat setidaknya 174 coffee shop baru yang beroperasi di Kota Solo. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan industri kopi yang sangat cepat dan masif.
Meski mengakui fenomena ini sebagai bagian dari dinamika ekonomi kreatif dan gaya hidup urban, Respati mengingatkan bahwa pertumbuhan satu sektor secara drastis juga menyimpan risiko. Menurutnya, lonjakan yang terlalu cepat berpotensi menciptakan ketidakseimbangan ekonomi dan tekanan harga di sektor lain.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak berniat membatasi usaha masyarakat, tetapi perlu hadir sebagai penengah agar pertumbuhan industri tetap sehat dan berkelanjutan.
Langkah Pemkot Jaga Stabilitas Harga Biji Kopi
Untuk meredam tekanan inflasi, Pemerintah Kota Solo menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah menjaga stabilitas pasokan biji kopi melalui kerja sama dengan daerah penghasil kopi.
Respati menyebut Kabupaten Temanggung sebagai salah satu mitra potensial. Dengan menjalin kerja sama antardaerah, diharapkan harga biji kopi dapat lebih terkendali dan tidak saling bersaing secara tidak sehat di pasar.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka menengah pemerintah daerah untuk menekan inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi lokal.
Data Inflasi Solo Masih Terkendali
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Solo mencatat inflasi tahunan atau year on year (YoY) sebesar 2,73 persen per Oktober 2025. Angka ini masih berada dalam rentang target inflasi nasional.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi YoY tertinggi dengan angka 12,29 persen. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 4,21 persen, disusul kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran sebesar 3,69 persen.
Fenomena coffee shop ini menjadi sinyal bahwa inflasi tidak lagi hanya dipicu oleh kebutuhan pokok, tetapi juga oleh perubahan pola konsumsi masyarakat. Menurut Anda, perlu kah pemerintah mulai mengatur pertumbuhan industri gaya hidup agar inflasi tetap terkendali?
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







