Jurnal Pelopor – Banjir lahar hujan Gunung Semeru kembali memutus akses warga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Jembatan Limpas yang menjadi jalur utama penghubung Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, rusak parah setelah diterjang lahar hujan pada Minggu (21/12/2025) sore. Akibatnya, warga terpaksa menyeberangi Sungai Regoyo dengan cara yang tidak biasa, yakni menggunakan bantuan alat berat berupa ekskavator.
Kondisi tersebut terlihat pada Senin (22/12/2025), saat sejumlah warga harus beraktivitas ke luar dusun. Aliran Sungai Regoyo yang masih deras, ditambah dasar sungai yang semakin curam pascabanjir, membuat warga tidak mungkin menyeberang secara mandiri. Demi keselamatan, mereka meminta bantuan operator ekskavator yang sedang bekerja melakukan penyudetan arus di sekitar lokasi.
Aktivitas Warga Terhambat Total
Putusnya Jembatan Limpas berdampak besar terhadap aktivitas harian warga Dusun Sumberlangsep. Akses menuju desa lain, fasilitas pendidikan, hingga pusat kegiatan ekonomi lumpuh total. Warga yang hendak mengantar anak ke sekolah maupun pesantren terpaksa menunggu atau mencari cara alternatif yang berisiko.
Supiati, salah satu warga Desa Jugosari, mengaku terpaksa menyeberangi sungai menggunakan ekskavator demi mengantar anaknya ke pesantren. Menurutnya, kedalaman sungai dan derasnya arus air membuat upaya menyeberang secara manual sangat berbahaya.
“Mau ke pesantren ngirim anak, enggak bisa nyebrang karena terlalu dalam sungainya,” kata Supiati.
Rasa Takut Warga Menyeberang Sungai
Bagi sebagian warga, menyeberang sungai menggunakan alat berat merupakan pengalaman pertama yang menegangkan. Supiati mengaku jantungnya berdebar saat berada di atas ekskavator yang melintasi aliran Sungai Regoyo.
“Ya takut, ini baru pertama jadi ndredek,” ujarnya sambil menggambarkan rasa cemas yang dirasakan.
Meski demikian, warga tidak memiliki banyak pilihan. Selama jembatan utama belum bisa dilalui, ekskavator menjadi satu-satunya sarana yang relatif aman untuk menyeberang.
Pemerintah Desa Belum Bisa Perbaikan Permanen
Kepala Desa Jugosari, Mahmudi, menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat melakukan perbaikan permanen terhadap jembatan yang rusak. Hal ini disebabkan oleh kondisi Sungai Regoyo yang hampir setiap hari diterjang banjir lahar hujan susulan dari Gunung Semeru.
“Ya bagaimana kondisi saat ini ya kita harus diam dulu sambil menunggu musim banjir ini selesai,” kata Mahmudi.
Menurutnya, upaya perbaikan akan sia-sia jika dilakukan saat ancaman lahar hujan masih tinggi.
Dua Alternatif Solusi Akses Warga
Saat ini, pemerintah desa bersama Pemerintah Kabupaten Lumajang tengah membahas dua alternatif solusi untuk membuka kembali akses warga Dusun Sumberlangsep. Opsi pertama adalah pembangunan jembatan gantung, namun rencana ini terkendala kebutuhan anggaran yang cukup besar.
Alternatif kedua yang dinilai lebih realistis adalah membuka jalan tembus dengan membelah perbukitan menuju Desa Sumberwuluh. Jalur ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang agar warga tidak lagi terisolasi setiap kali banjir lahar terjadi.
“Yang mungkin adalah pengecoran melewati pinggir gunung untuk warga Sumberlangsep,” ujar Mahmudi.
Hingga solusi tersebut terealisasi, warga Dusun Sumberlangsep masih harus berjibaku dengan kondisi alam yang ekstrem, sembari berharap aktivitas Gunung Semeru segera mereda dan akses kehidupan mereka kembali normal.
Sumber: Kompas.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







