• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home Nasional

Bantuan 30 Ton Beras Disalahpahami, Mendagri Buka Fakta

Mendagri Tito menegaskan bantuan 30 ton beras di Medan berasal dari NGO Red Crescent UEA, bukan pemerintah UEA.

musa by musa
20/12/2025
in Nasional
0
30 ton beras
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian akhirnya memberikan klarifikasi terkait polemik bantuan 30 ton beras untuk korban bencana di Sumatra yang sempat dikembalikan oleh Pemerintah Kota Medan. Tito menegaskan, bantuan tersebut bukan berasal dari pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), melainkan dari organisasi non-pemerintah (NGO) asal UEA bernama Red Crescent.

Bukan Bantuan Pemerintah UEA

Tito Karnavian menjelaskan bahwa informasi mengenai asal-usul bantuan beras itu telah diluruskan setelah pemerintah Indonesia berkomunikasi langsung dengan pihak UEA. Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar UEA kepada pemerintah Indonesia.

“Yang diberikan itu bantuan 30 ton berasal bukan dari pemerintahan United Arab Emirates, tetapi dari Red Crescent,” kata Tito dalam konferensi pers perkembangan penanganan bencana Sumatra di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Red Crescent sendiri merupakan organisasi kemanusiaan internasional yang setara dengan Palang Merah atau Palang Bulan Sabit Merah. Organisasi ini bergerak secara independen dan tidak berada langsung di bawah struktur pemerintahan.

“Ini bulan sabit merah, semacam PMI. Jadi non-government organization,” tegas Tito.

Kesalahpahaman Pemkot Medan

Tito mengungkapkan, pengembalian bantuan dilakukan karena adanya kesalahpahaman dari pihak Pemerintah Kota Medan. Wali Kota Medan mengira bantuan beras tersebut berasal dari pemerintah UEA secara langsung atau bersifat government to government (G2G).

Karena menganggap bantuan itu merupakan bantuan antarnegara, Pemkot Medan memilih mengembalikannya. Hal itu dilakukan lantaran belum ada mekanisme resmi penerimaan bantuan luar negeri dari pemerintah asing.

“Dipikir oleh Pak Wali Kota adalah dari pemerintah. Government to government yang memang ada mekanismenya dan itu belum dilakukan,” jelas Tito.

Menurut Tito, langkah Pemkot Medan tersebut diambil dengan itikad baik. Namun, setelah asal bantuan dipastikan berasal dari NGO, polemik pun diluruskan agar bantuan tetap bisa dimanfaatkan untuk masyarakat terdampak bencana.

Bantuan Disalurkan Melalui Muhammadiyah

Setelah klarifikasi dilakukan, bantuan 30 ton beras tersebut tidak lagi berada di bawah Pemkot Medan. Tito memastikan, bantuan kini telah diserahkan kepada Muhammadiyah untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat korban bencana di Sumatra.

Dalam situasi darurat ini, Muhammadiyah membentuk pusat kemanusiaan khusus di Medan. Melalui jaringan dan pengalaman panjang dalam penanganan bencana, organisasi tersebut dipercaya untuk menyalurkan bantuan secara tepat sasaran.

“Dalam rangka bencana ini, Muhammadiyah membuat suatu center kemanusiaan di Medan. Dan beras ini sekarang sudah ada di tangan Muhammadiyah. Nanti Muhammadiyah yang akan membagikan kepada masyarakat,” ujar Tito.

Pelajaran soal Koordinasi Bantuan Internasional

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah dan pusat dalam menangani bantuan internasional, khususnya saat bencana. Koordinasi lintas lembaga dan pemahaman soal asal bantuan menjadi kunci agar distribusi tidak terhambat.

Pemerintah berharap, ke depan tidak ada lagi bantuan kemanusiaan yang tertunda akibat miskomunikasi. Fokus utama tetap satu, yaitu memastikan bantuan cepat sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan.

Sumber: Liputan6

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #TitoKarnavian #Mendagri #BantuanBencana #Medan #Sumatra #RedCrescent #Klarifikasi #jurnalpelopor
Previous Post

OTT Kajari dan Kasi Intel HSU, Kejagung Beri Penjelasan

Next Post

Dulu Kampung, Kini Muara Sungai: Nasib Desa Bungkah

musa

musa

Related Posts

kpk
Nasional

KPK Sita Dokumen hingga Uang saat Geledah Kantor Ditjen Pajak

14/01/2026
dana haji
Nasional

KPK Buka Dugaan Dana Haji Mengalir ke Elite PBNU

14/01/2026
mark-up
Nasional

Prabowo Murka, Bongkar Dugaan Mark-Up Energi

13/01/2026
banjir
Nasional

Banjir Rendam Jakarta, Sejumlah Ruas Tol Macet Panjang

13/01/2026
balikpapan
Nasional

RDMP Balikpapan Beroperasi, Impor Solar Ditarget Nol

13/01/2026
ronald
Nasional

Timothy Ronald Terseret Laporan Dugaan Penipuan Kripto

12/01/2026
Next Post
bungkah

Dulu Kampung, Kini Muara Sungai: Nasib Desa Bungkah

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.