Jurnal Pelopor – Mi instan menjadi salah satu makanan paling populer di Indonesia. Selain murah, cara memasaknya cepat dan rasanya beragam. Namun, di balik kepraktisan itu, mi instan menyimpan sejumlah catatan kesehatan.
Konsumsi mi instan terlalu sering disebut berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan.
Dampak Kesehatan Jika Terlalu Sering Konsumsi Mi Instan
Dokter spesialis penyakit dalam Aru Ariadno menjelaskan bahwa konsumsi mi instan berlebihan dapat memicu sejumlah gangguan serius.
Beberapa risiko yang paling sering muncul meliputi:
- Tekanan darah tinggi
- Penyakit jantung
- Obesitas
- Diabetes
- Gangguan pencernaan
- Penurunan fungsi ginjal
Risiko tersebut berkaitan erat dengan kandungan natrium, lemak jenuh, dan kalori yang cukup tinggi dalam mi instan.
Proses Pencernaan Mi Instan Berbeda
Tidak seperti mi segar atau mi buatan rumahan, mi instan mengalami proses pengolahan tambahan, termasuk digoreng sebelum dikemas. Proses ini membuat struktur mi instan lebih keras dan sulit terurai.
Akibatnya, pencernaan mi instan di dalam tubuh berjalan lebih lambat.
Berapa Lama Mi Instan Bertahan di Lambung?
Secara umum, mi instan dapat bertahan sekitar 3–5 jam di lambung sebelum berpindah ke usus untuk proses pencernaan lanjutan.
Namun, pada sebagian orang, sisa mi instan bisa memerlukan waktu hingga 1–2 hari sebelum benar-benar dikeluarkan dari tubuh melalui sistem pencernaan.
Kandungan Lemak Jadi Faktor Utama
Salah satu penyebab utama lamanya proses pencernaan mi instan adalah kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi akibat proses penggorengan.
Lemak jenuh dapat:
- Memperlambat kerja lambung
- Menghambat pergerakan makanan ke usus
- Membuat perut terasa penuh lebih lama
Peran Bahan Pengawet
Banyak mi instan mengandung bahan pengawet agar tahan lama. Bahan ini membuat tekstur mi lebih kuat dan tidak mudah hancur.
Akibatnya, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk memecah dan menyerap nutrisi dari mi instan.
Rendah Serat, Usus Bekerja Lebih Lambat
Mi instan juga dikenal rendah serat. Padahal, serat sangat penting untuk memperlancar kerja usus.
Kurangnya serat membuat:
- Pergerakan usus melambat
- Proses pengeluaran sisa makanan tertunda
- Risiko sembelit meningkat
Mi Segar Lebih Mudah Dicerna
Sebaliknya, mi segar atau mi tanpa pengawet umumnya:
- Lebih cepat hancur di lambung
- Lebih mudah dicerna
- Tidak terlalu membebani sistem pencernaan
Inilah alasan mi segar sering dianggap lebih ramah bagi pencernaan.
Kesimpulan: Boleh, Tapi Jangan Berlebihan
Mi instan bukan makanan berbahaya jika dikonsumsi sesekali. Namun, konsumsi berlebihan dapat memperlambat pencernaan dan memicu masalah kesehatan jangka panjang.
Agar lebih aman, sebaiknya mi instan dikombinasikan dengan sayuran, protein, dan dikonsumsi tidak terlalu sering.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







