Jurnal Pelopor — Derita panjang warga pascabencana banjir dan longsor di Sumatera Utara semakin diperparah oleh tragedi kemanusiaan yang terjadi pada Sabtu (29/11/2025). Seorang ibu di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dilaporkan meninggal dunia saat berebut beras dalam aksi penjarahan di gudang Bulog Sibolga–Tapteng. Tragedi ini terjadi setelah bantuan logistik disebut tak kunjung tiba lebih dari tiga hari sejak bencana melanda kawasan tersebut.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, pada Selasa (2/12/2025). Ia menyampaikan bahwa sang ibu meninggal di lokasi, sementara anaknya turut terluka dan kini masih menjalani perawatan medis.
“Yang meninggal dunia satu ibu, anaknya satu dalam perawatan,” ujar Masinton.
Peristiwa memilukan ini sekaligus memperlihatkan besarnya tekanan dan frustrasi warga yang terdampak bencana, terutama ketika kebutuhan pokok sulit mereka dapatkan.
Pemicu Penjarahan: Bantuan Terlambat Datang
Aksi penjarahan tidak hanya terjadi di gudang Bulog, tetapi juga menyasar tujuh gerai minimarket di Tapteng dan Kota Sibolga. Warga mengambil berbagai kebutuhan seperti beras, makanan instan, air minum, gula, hingga sabun. Menurut laporan, keterlambatan penyaluran bantuan menjadi faktor utama yang memicu aksi massa tersebut.
Polres Sibolga telah mengamankan 16 warga yang diduga terlibat. Meski demikian, pihak kepolisian membuka peluang penyelesaian melalui Restorative Justice (RJ).
Kasi Humas Polres Sibolga, AKP Suyatno, menjelaskan bahwa petunjuk pimpinan mengarah pada pendekatan dialog dan mediasi.
“Mohon maaf, rencananya mau di-RJ-kan, sudah ada petunjuk dari pimpinan atas,” ujarnya.
Untuk mencegah insiden susulan, aparat gabungan TNI–Polri kini memperketat penjagaan di sejumlah minimarket dan pusat perbelanjaan.
Korban Jiwa Bencana Terus Meningkat
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan signifikan jumlah korban banjir dan longsor di Sumatera Utara. Per Selasa (2/12/2025), total korban meninggal mencapai 283 jiwa, sedangkan 173 jiwa masih dinyatakan hilang.
Ribuan warga juga terpaksa mengungsi ke berbagai titik, dengan jumlah pengungsi terbesar berasal dari:
- Tapanuli Utara: 15.765 jiwa
- Mandailing Natal: 7.194 jiwa
- Kota Sibolga: 4.456 jiwa
- Humbang Hasundutan: 2.200 jiwa
- Tapanuli Tengah: 2.111 jiwa
- Tapanuli Selatan: 1.505 jiwa
Lonjakan korban jiwa serta tragedi penjarahan ini menjadi peringatan darurat bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk segera mempercepat distribusi bantuan logistik. Lambatnya penanganan dikhawatirkan memperburuk krisis kemanusiaan yang kini tengah meluas di kawasan terdampak bencana.
Sumber: Kompas.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







