Jurnal Pelopor — Amsterdam kembali menyambut nama Ibrahimovic setelah seperempat abad berlalu, kali ini bukan Zlatan sang legenda, melainkan putranya, Maximilian Ibrahimovic, yang resmi bergabung dengan Ajax melalui status pinjaman dari AC Milan hingga akhir musim 2025/2026 dengan opsi pembelian permanen.
Jejak Sejarah Terulang di Amsterdam
Nama Ibrahimovic memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Ajax. Pada 2001, Zlatan Ibrahimovic datang dari Malmo sebagai talenta muda dan menjadikan Amsterdam sebagai panggung awal lahirnya salah satu karier terbesar di sepak bola Eropa. Dua puluh lima tahun berselang, kisah itu seolah terulang, meski dengan jalan yang berbeda.
Ajax mengonfirmasi bahwa Maximilian Ibrahimovic telah merampungkan proses peminjaman dari AC Milan. Kesepakatan tersebut berlaku selama enam bulan dan disertai klausul opsi pembelian, yang membuka peluang bagi Ajax untuk mengamankan sang pemain secara permanen jika performanya sesuai ekspektasi klub.
Kepindahan ini bukan sekadar transfer biasa, tetapi juga sarat simbolisme. Ajax kembali menjadi titik persimpangan penting bagi keluarga Ibrahimovic, meski Maximilian menegaskan bahwa dirinya datang bukan untuk mengulang masa lalu sang ayah.
Rencana Ajax untuk Maximilian
Direktur sepak bola Ajax, Marijn Beuker, menyambut kedatangan Maximilian dengan optimisme tinggi. Menurutnya, Ajax melihat potensi besar pada diri penyerang muda kelahiran Swedia tersebut.
Beuker menggambarkan Maximilian sebagai striker dengan insting posisi yang kuat di sekitar kotak penalti, penyelesaian akhir yang tajam, serta orientasi gol yang jelas. Namun, Ajax tidak ingin terburu-buru.
Dalam fase awal, Maximilian akan lebih banyak bermain bersama Ajax U-23. Ia juga akan secara berkala dipanggil berlatih dan bermain bersama tim utama Ajax 1 agar terbiasa dengan intensitas dan tuntutan level tertinggi di klub.
Strategi ini disebut sebagai bagian dari proses adaptasi bertahap, khas Ajax, yang selama puluhan tahun dikenal piawai mengembangkan talenta muda menjadi pemain kelas dunia.
Hidup di Bawah Bayang-Bayang Nama Besar
Zlatan Ibrahimovic meninggalkan jejak kuat selama tiga musim di Ajax. Ia mencetak 35 gol dari 74 pertandingan Eredivisie, menjalani debut Liga Champions, serta mempersembahkan dua gelar liga Belanda sebelum melanjutkan karier ke Juventus dan klub-klub elite Eropa lainnya.
Nama besar itu tentu melekat pada Maximilian. Namun, pemain yang lahir pada 2006 tersebut justru menegaskan sikap yang tegas. Dalam wawancara pertamanya sebagai pemain Ajax, ia menyatakan ingin menulis ceritanya sendiri.
Menurut Maximilian, kebanggaannya terhadap sang ayah tidak berarti ia ingin hidup dari reputasi masa lalu. Ia menekankan bahwa dirinya adalah pemain dengan identitas sendiri dan datang ke Ajax untuk membangun jalannya sendiri.
“Ibrahimovic hanyalah sebuah nama,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Dari Milan Menuju Amsterdam
Sebelum ke Ajax, Maximilian berkembang di akademi AC Milan sejak pindah ke Italia pada 2022. Ia tampil reguler bersama tim Futuro Milan dan mulai mencicipi atmosfer sepak bola senior. Di level internasional, ia juga tercatat sebagai bagian dari tim nasional junior Swedia.
Kini, Ajax menjadi panggung berikutnya. Klub Belanda itu bukan hanya mendapatkan talenta muda potensial, tetapi juga membuka bab baru dari sebuah nama besar yang pernah menggetarkan Amsterdam. Bedanya, kali ini ceritanya masih kosong dan menunggu untuk ditulis.
Akankah Maximilian mampu keluar dari bayang-bayang Zlatan dan membangun legenda versinya sendiri di Ajax? Musim ini akan menjadi awal jawabannya.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







